Minggu, 19 Februari 2017

BELAJAR ILMU TAUHID

PAHAMILAH TAUHID PARA GURU SUFI
Imam Al-Qusyairi mengatakan:
“Ketahuilah, wahai hamba-hamba yang dikasihi Allah, sesungguhnya para guru kaum sufi telah membangun kaidah-kaidah ajaran sufi di atas prinsip ketauhidan yang benar. Mereka menjaganya dari bid’ah; mendekatkannya dengan tauhid yang mereka peroleh dari para salaf dan ahli sunnah. Ajarannya tidak mengandung unsur tasybih maupun ta’thil. Mereka mengerti apa yang menjadi hak Allah Dzat Yang Mahadahulu. Mereka memahami benar ‘ketiadaan’ yang menjadi karakter dasar makhluk. Oleh karena itu, seseorang guru kaum sufi, Imam al-Junaid, semoga Allah selalu merahmatinya, berkata, “Tauhid adalah pengesaan Tuhan yang Mahadahulu oleh makhluk ciptaan-Nya.”

Kaum sufi menguatkan dasar-dasar keyakinan akidah mereka dengan dalil-dalil yang jelas dan bukti-bukti yang kuat. Dalam hal ini Imam Ahmad bin Muhammad al-Jariri—semoga Allah merahmatinya—berkata, “Barangsiapa belum mengusai ilmu tauhid beserta argumen-argumennya, maka telapak kaki yang tertipu pasti akan tergelincir ke dalam kerusakan hawa nafsu.”

Artinya, barangsiapa yang hanya mengandalkan taklid dan tidak berusaha merenungi argumen-argumen tauhid, dia akan menyimpang dari jalan yang dapat menyelamatkannya dan tertawan di lembah kerusakan. Sedangkan bagi orang yang mau merenungi pernyataan-pernyataan para guru sufi lalu mengamatinya dengan seksama, secara keseluruhan maupun sebagiannya, maka ia akan menjumpai sesuatu yang menjadi kuat dengan perenungannya, bahwa kaum sufi tidak dapat melalaikan hakikat kebenaran dan tujuan akhir dan mereka tidak akan dapat mengalami peningkatan ruhaniyah (mi’raj) dalam pencariannya dengan berpijak pada kelalaian.”

—Risalah Al-Qusyariyah, Imam Al-Qusyairi An-Naisaburi

NASEHAT DARI SHULTANUL AWLIA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Kebanyakan dari kalian tidak bersentuhan dengan kenyataan. Kalian berpura-pura mempraktikkan Islam, sedangkan pada kenyataannya kalian tidak mengamalkannya secara sungguh-sungguh.  Celakalah kalian! Kalian hanya menyandang nama Islam saja, tetapi tidak mendatangkan kebaikan apa pun karena kalian melalaikannya.

Kalian mungkin melaksanakan syariat, tetapi hanya pada lahirnya saja, tanpa pengamalan batin. Pengamalanmu hanya di lapisan lahir sehingga  tak bernilai sama sekali. Bentuk lahiriah kalian mungkin berada di mihrab, tetapi wujud batin kalian sedang pamer (riya) dan kalian sedang berbuat munafik. Dari permukaan kalian dipandang shaleh dan penuh pengabdian kepada Allah, padahal kenyataannya tidak karena wujud batin kalian penuh dengan hal-hal haram.
Kalian mungkin melihat diri kalian bersih dari noda dalam padangan para ahli syariatm tetapi bagaimana mungkin kalian dapat lolos dari keadaan tak tercela pada pandangan para ahli ilmu (ahlul-‘ilm). Para ahli ilmu mampu melihat mereka dengan cahaya Allah dan mengenali Kebenaran (Al-Haqq).

Jika dilihat oleh mata kaum awam, mungkin kalian adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, berpuasa, selalu bertasbih, membayar zakat, menunaikan haji, berprilaku warak, bertakwa dan zuhud. Namun sebaliknya, jika dilihat oleh ahlul-‘ilm, kalian adalah orang-orang munafik, dajjal, dan penghuni neraka. Mereka mampu melihat puing-puing kehancuran rumah-rumah kalian dan bangunan agama kalian. Mereka mampu melihat tanda-tandanya melalui wajah-wajah kalian. Namun, untuknya mereka tidak mengatakan apa pun kepada kalian. Kedekatannya kepada Allah membuat mereka telah menutup mulut mereka . Karena perindungan-Nya telah membuat lidah-lidah mereka tertahan.

Karena itu, kalian harus mengamalkan hakikat Islam, agar iman bisa datang kepada kalian secara sempurna, kemudian mampu menumbuhkan keyakinan kalian, memahami makrifatullah, mampu melakukan munajat dan muhadatsah kepada-Nya. Maka, gunakan akal sehat kalian! Janganlah kalian puas hanya dengan bentuk-bentuk luar ibadah semata. Kerjakanlah kewajiban-kewajiban kalian, lakukan dengan tulus, sebab dengan begitu kalian akan diselamatkan.”

—Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Sabtu, 11 Februari 2017

PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu bergerak ke depan. Dia hanya memiliki depan, tanpa belakang. Dia tak pernah berhenti berprilaku jujur dan ikhlas sehingga setitik debunya  menjadi gunung, setetes airnya menjadi lautan, jatahnya yang kecil menjadi sangat besar, lampunya menjadi matahari, dan bungkusnya menjadi isi.
Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang benar-benar jujur seperti itu, maka engkau harus selalu dekat dengannya kemanapun ia membawamu. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang mempunyai obat untuk menyembuhkan penyakitmu, maka engkau harus mendekatinya sepanjang waktu.

Jika engkau cukup beruntung bertemu dengan seseorang yang bisa menunjukkan kepadamu bagaimana cara menemukan kembali kesempatan yang telah engkau sia-siakan pada sesuatu yang tak lebih baik daripada sampah, maka engkau harus mendekatinya—benar-benar dekat!

Tapi, boleh jadi, engkau tak akan pernah mengenal orang-orang yang seperti itu, sebab mereka tak lebih dari segelintir manusia yang langka. Bungkus luarnya mungkin banyak, tetapi isinya hanya sedikit. Cangkangnya mungkin berada di tempat-tempat pembuangan sampah umum, tetapi isinya berada di gudang pribadi sang pemilik tanah. Setiap kali hati diisi dengan hal-hal duniawi, syahwat, hawa nafsu badani, maka hati itu akan menjadi hanya sekadar cangkang, yang tak akan cocok untuk tujuan apa pun di luar dunia yang rendah ini. Selama engkau masih menemukan dalam hatimu sifat dan perbuatan kotoran makhluk, maka engkau akan merasa menderita karena hukuman.

Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.” (QS Adzariyat: 56-58)

—Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir