Rabu, 23 November 2016

AJARAN IKHLAS DARI SULTHANUL-AWLIYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai saudaraku, hidupmu jangan seperti pasar, yang jika waktunya habis tak seorang pun tinggal di sana. Ketika malam tiba, tak seorang pun berkenan tinggal di sana. Oleh karena itu, bermujahadalah engkau agar tidak akan seperti berjual beli di pasar; kecuali sesuatu yang bermanfaat buat akhirat kelak. Sebab Allah selalu mengawasimu. Tauhidkanlah Allah dan beramallah dengan ikhlas semata karena Dia.
Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah jua yang memberi rezeki buatmu. Janganlah bersifat kikir terhadap sesama. Pakailah akalmu, bersopan santunlah di hadapan Allah dan di hadapan makhluk-Nya. Janganlah engkau menganiaya sesama dan jangan mencuri hak-hak mereka. Pandai-pandailah menempatkan diri di sisi-Nya.

Wahai saudaraku, dengan ekspresi wajah yang bagaimanakah kelak engkau berjumpa dengan Allah jika dirimu saat ini selalu menentangnya. Jika setiap kebutuhan dan hajatmu engkau sampaikan kepada sesama manusia dan engkau berserah diri kepadanya; bukan kepada Allah.
Wahai saudaraku, seandainya engkau mampu memberi terhadap sesamamu tanpa menghendaki sesuatu imbalan, maka lakukanlah. Jadіlah pelayan tanpa mencari pelayan. Perhatikan kesufian dan kesiapan mereka di hadapan Allah. Jika Islam tidak ada dalam jiwamu, bagaimana mungkin iman bisa tumbuh dalam hatimu. Jika keyakinan tidak engkau miliki, berarti dirimu
tidak mempunyai kebaikan. Itu berarti engkau jauh sekali dari-Nya. Inilah derajat yang tumbuh dalam jiwa.

Tetapi jika Islam murni, maka murnilah penghambaanmu kepada-Nya. Maka menjadilah engkau orang yang berserah diri kcpada-Nya dengan segala keberadaanmu. Engkau akan menjaga syariat-Nya secara ikhlas. Serahkan jiwamu menurut kewajiban. Perbaikilah adab bersama-Nya dan dengan makhluk-Nya. Jangan engkau menganiaya diri sendiri atau orang lain. Karena perbuatan aniaya itu membutakan hati, menggelapkan mata dan menggelapkan catatan amal. Janganlah engkau menolong orang yang suka menganiaya orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
اِذَا اُظْلِمَ مَنْ لَمْ يَجِدْ نَاصِرًا غَيْرَ الْحَقِّ عَزَّ وَجَلَّ فَاِنَّهُ يَقُوْلُ: لَاَنْصُرَنَّكَ وَلَوْبَعْدَ حِيْنٍ.
Apabila orang yang teraniaya itu tidak menjumpai penolong selain Allah Azza wa Jalla, maka Allah berkata tentu Aku beri pertolongan padamu walaupun sudah berlalu.
Bersabarlah engkau, sebab sabar itu suatu jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah dan mengangkat kemuliaan.

Wahai Allah, kami mohon kepada-Mu agar sabar bersama-Mu. Kami mohon taqwa, bebas dari semua keberadaan ini, sibuk bersama-Mu.
Wahai hamba Allah, tenanglah bersama-Nya, karena tenang bersama-Nya itu nikmat. Tiada penguasa, tiada yang kaya, dan tiada yang mulia kecuali Allah SWT.
Wahai orang munafik, sampai kapankah kamu riya' dan munafik kepada-Nya? Celakalah kamu, kenapa tidak malu kepada-Nya dan tidak уakin akan bertemu dengan-Nya? Waktu ini kamu beramal karena-Nya tetapi dalam batinmu tidak demikian. Bertaubatlah dan bersihkan niatmu karena-Nya, sesungguhnya tidak akan makan sesuap pun atau berjalan selangkah kecuali dengan niat yang ikhlas.

Ketauhilah, bahwa makhluk dan Khalik tidak bisa disamakan, dunia dan akhirat tidak akan pernah bisa dipadukan. tidak bisa dilukiskan tapi keberadaan makhluk bisa dilukiskan dalam jiwa. Jika kamu dekat dengan Allah maka bebaskan hatimu dari dunia dan akhirat. Selama dalam hatimu masih ada sesuatu selain Allah Swt. maka kamu tidak akan bisa melihat kehadiran-Nya. Selama hatimu masih suka terhadap dunia, maka kamu tidak akan bisa melihat akhirat, kamu tidak akan bisa mendekati pintu-Nya selagi hatimu masih bercabang. Wahai hamba Allah, kelihatannya kamu sibuk dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui. maka kosongkanlah nafsu dari hatimu tentu kebaikan akan menyelimutimu, jika nafsu itu telah keluar maka datanglah kejernihan.

Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Al- Ra'd (13) : 11)
Wahai saudaraku, pikirkanlah kalam Allah di atas tadi. Setiap kalimat yang keluar dari mulutku dan kusampaikan kepada mereka bukan berarti aku membutuhkan mereka. Aku tidak butuh mereka, tetapi aku hanya butuh kepada Allah.

Dia Maha Mengetahui kebenaranku, karena Dia Maha Tahu atas segala yang gaib, segala yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaan-Nya. Beramal dengan ikhlas adalah amal kebaikan yang dilakukan semata-mata karena Allah, semata-mata mengharap ridha-Nya. Ikhlas merupakan ruh amal. Sedangkan amal kebaikan yang tidak disertai dengan niat ikhlas, jelas akan ditolak oleh Allah.

Allah SWT berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Dan mereka tidak diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan Agama. (QS Al- Bayyinah (98) : 5)
Rasulullah Saw. bersabda:
لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغِىَ بِهِ وَجْهَهُ
Allah tidak menerima amal, melainkan amalnya yang ikhlas mencari keridhaan Allah (HR. Ibnu Majah)
Wahai saudaraku, ikhlas adalah dasar suatu amalan. Amalan yang tidak disertai dengan hati yang ikhlas akan sia-sia. Percayalah kepada Allah dan taatilah segala perintah-Nya. Jauhilah segala apa yang dilarang-Nya dan janganlah kamu durhaka kepada-Nya. Cintailah sesuatu karena Allah, bencilah orang yang selalu menentang-Nya.

Wahai saudaraku, syukurlah atas semua pemberian-Nya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya di saat mengalami kesulitan dan pujilah Dia di saat mengalami kegembiraan. Cintailah sesama manusia sebab mereka itu makhluk Allah. Ikhlas kepada Allah dalam beribadah adalah menyembah-Nya dengan tanpa mengharap sesuatu dari selain-Nya. Kalau kamu menyembah Allah dengan tujuan untuk memperoleh pahala atau sebab takut karena siksa-Nya, maka ibadah yang seperti itu tidak dinamakan ikhlas.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk mengabdi kepada Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An،âm (6) :162)

Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ اَعْطَى لِلّٰهِ تَعٰلَى وَمَنَعَ لِلّٰهِ تَعَالٰى وَاَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَاَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَلَى وَاَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَوِاسْتَكْمَلَ اِيْمَانَهُ.
Barangsiapa yang memberimu karena Allah Та 'ala, mencegah karena Allah Та 'ala. Mencintai karena Allah Та 'ala, benci karena Allah ta 'ala, dan menikahkan karena Allah Та 'ala, maka ia telah menyempurnakan imannya. (HR. Abu Dawud)
Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab r.a. berkata tentang amalan yang ikhlas sebagai berikut:
اَفْضَلُ الاَعْمَالِ اَدَاءُ مَافْتَرَضَ اللهُ تَعَالَى وَالْورَعُ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى وَصِدْقُ النِّيَّةَ فِيْمَا عِنْدَاللهِ تَعَالَى.
Amalan yang paling utama adalah menunaikan ара yang telah difardhukan oleh Allah Та 'ala dan melakukan wara' (menjaga diri) dari sesuatu yang diharamkan Allah Та 'ala, serta membenarkan niat dalam beribadah kepada Allah ta 'ala.

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Selasa, 22 November 2016

MAN JADDA WAJADA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Ajukanlah permintaan kalian kepada-Nya, dan bukan kepada siapa pun yang lain. Tegaskanlah ke-esaan-Nya, sebab dengan itu kalian akan disatukan. Orang yang mengukuhkan keesaan Tuhan akan mengalami penyatuan (man wa hhada tawa hhada). Orang yang mencari dan berjuang, akan mendapatkan (man thalaba wa jadda wajada).

Jika seseorang menyerahkan dirinya dan tunduk serta patuh kepada-Nya, maka orang itu akan aman dan selamat (man aslama wa taslama, salima). Jika seseorang menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, dia akan dibantu untuk berhasil (man wafaqa wuffiqa). Tetapi jika seseorang bertengkar dengan takdir (qadar), dia akan dipukul hingga binasa. Ketika firʽaun bertengkar dengan takdir dan menginginkan agar ilmu Allah diubah, maka Dia lalu membinasakannya dan menenggelamkannya di laut, dan menjadikan Mûsâ dan Harun tetap hidup.

Ketika ibu Mûsâ merasa takut kepada algojo-algojo yang disuruh Firʽaun menyembelih setiap bayi yang baru lahir, maka Allah lalu memberinya ilham agar dia melemparkannya ke laut. Tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Mûsâ a.s. maka kepadanya dikatakan:
الْمُرْسَلِينَ [القصص :٧] وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ
Janganlah engkau takut dan jangan bersedih, sebab Kami akan membawa dia kembali kepadamu,dan Kami akan menjadikannya salah seorang rasul (QS Al-Qashash (28):7).

(Dengan perkataan lain:) “Janganlah engkau takut, sebab hatimu akan ditenangkan, dan wujud terdalammu (sirr) akan diistirahatkan. Janganlah engkau takut bahwa dia akan tenggelam atau binasa, sebab Kami akan mengembalikan dia kepadamu. Melalui dia kami akan mengubah kemiskinanmu menjadi kekayaan.” Karena itu Ibu Mûsâ a.s. lalu mempersiapkan sebuah peti (tâbût) baginya, lalu meletakkannya di dalamnya, dan melemparkan peti itu ke laut. Lalu peti itu mengapung di atas air sampai mencapai istana, di mana ia diambil oleh pelayan-pelayan Firʽaun dan istrinya, Ȃsiyah.

Segera sesudah mereka membuka peti itu, mereka pun melihat bahwa peti itu berisi seorang bayi laki-laki.  Mereka semua menyukainya, dan hati mereka penuh dengan rasa sayang kepadanya. Maka mereka pun lalu menggosok bayi itu dengan minyak, mengganti popoknya dan memberinya baju baru. Dia menjadi salah seorang manusia yang paling dicintai oleh Ȃsiyah dan para pelayannya, dan dia juga dicintai oleh setiap anggota pengiring Firʽaun yang kebetulan melihatnya. Ini menjelaskan makna firman Allah SWT.:
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي [طه: ٣٩]
Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku (QS Thâ Hâ (20) :39)

Dikatakan bahwa siapa pun yang memandang ke mata Mûsâ pasti jatuh cinta kepadanya. Kemudian Dia mengembalikannya kepada ibunya dan membesarkannya di istana Firʽaun, bertentangan dengan kehendak Firʽaun sendiri, yang terbukti tidak mampu membinasakannya. Apabila seseorang telah dipilih dan dipelihara oleh Tuhan untuk Diri-Nya sendiri, bagaimana bisa orang membinasakannya?

Bagaimana bisa orang membantainya? Bagaimana bisa air menenggelamkannya? Dia dijaga dalam penjagaan-Nya dan berbicara dengan-Nya secara langsung. Apabila seseorang dicintai oleh Tuhan Yang Maha Benar, siapa yang bisa membencinya? Siapa yang bisa mendatangkan bahaya kepadanya? Siapa yang mampu menelantarkannya? Siapa yang bisa menjadikannya kaya? Siapa yang bisa menjadikannya miskin?  Siapa yang bisa mengangkatnya ke derajat yang tinggi? Siapa yang akan mampu memecatnya? Siapa yang bisa mendekatkannya? Siapa yang akan mampu menjauhkannya?

Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu kedekatan-Mu. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mengabdi dan taat kepada-Mu, ke dalam kalangan mereka yang bertakwa sepenuhnya kepada-Mu, dan ke dalam kalangan tentara-Mu. Izinkanlah kami duduk di tikar dimana makanan anugerah-Mu disuguhkan, dan izinkanlah kami memuaskan dahaga kami dengan minuman persahabatan akrab-Mu.

Berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan pula di akhirat nanti, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS Al-Baqarah (2) :201)"

--Dikutip dari kitab Jala Al-Khathir, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Semoga bermanfaat.
Salam

Halim Ambiya

Kamis, 17 November 2016

DAHSYATNYA CINTA KEPADA RASULULLAH

Al-Qasthulani dalam kitab Al-Mawahib Al-Laduniyah mengatakan, "Allah menjadikan pahala bagi orang yang dengan tulus mengikuti Rasulullah SAW berupa kecintaan-Nya kepadanya. Karena, ketulusan mengikuti Nabi SAW dapat menumbuhkan rasa mencintai dan dicintai sekaligus. Dengan begitu, sempurnalah proses cinta. Tidak cukup engkau mencintai Allah. Allah pun harus mencintaimu juga. Dia tidak akan mencintaimu jika kamu tidak mengikuti kekasih-Nya lahir dan batin.
Allah SWT akan mencintaimu jika kamu membenarkannya, mengikuti perintahnya, menjawab seruannya, mendahulukan ketaatan kepadanya, meninggalkan hukum yang lain untuk tunduk pada hukumnya, meninggalkan kecintaan kepada mahluk lainnya dan semata-mata mencintainya. Inilah yang dimaksud dengan ”Ikutilah aku, Allah akan mencintaimu."

Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga hal yang bila ada semuanya pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apa pun selain keduanya; kedua, ia mencintai orang semata-mata karena Allah; dan ketiga, ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan ke dalam api Neraka," (HR Bukhari).
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa bagi umatnya yang mencintainya, maka Allah SWT akan menggabungkan para pecinta tersebut, baik secara ruhaniyah di dunia dan secara hakiki di akhirat dengan kekasih-Nya. Sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Sufyan bin Qudamah. Beliau berkata, "Aku hijrah ke Medinah dan aku bertemu Nabi Saw. Aku menyapanya, ‘Ya Rasul Allah, berikan tanganmu, aku mau berbai'at." Beliau kemudian menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku bertanya kepadanya, "Ya Rasul Allah, aku mencintaimu." Beliau pun bersabda, "Manusia akan digabungkan bersama orang yang dicintainya."

Seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW tentang Hari Kiamat. Beliau bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab,"Tidak ada sama sekali. Tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda, "Engkau beserta orang yang engkau cintai."
Moga bermanfaat!

Selasa, 08 November 2016

HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya. Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi.
Allah SWT berfirman, “Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS As-Sajadah [32]: 24-25)
Imam Asy-Syadzili mengatakan, “Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara’, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini—beliau menunjuk ke mulutnya—dan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman, “Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 127-128)
Imam Asy-Syadzili juga mengatakan, “Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan ataupun kemaksiatan.

Jika engkau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. Jika Allah menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntutmu untuk bersaksi atas anugerah dan taufik-Nya secara syariat. Dan, jika Dia menghendaki kemaksiatan dirimu, maka Allah menuntut dirimu untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan mendalam secara syariat.
Siapa yang mengerti empat perkara ini datang dari Allah dan melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah hamba yang sebenar-benarnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ketika diberi lalu ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar, jika dia menzalimi lalu meminta ampun dan jika dia dizalimi lalu memaafkan.” Kamudian Rasul terdiam...Para sahabat pun heran dan bertanya, “Ada hal apa, wahai Rasulullah?”

Kemudian Rasul pun menjawab, “Merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam ungkapan sebahagian dari mereka menyebutkan, “Tidak akan dianggap mudah melakukan itu, kecuali bagi seorang hamba yang memiliki cinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”

--Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili dalam kitab Durrat Al-Asrar wa Tuhfat Al-Abrar karya Muhammad Ibn Abi Qasim Al-Humairi.
Moga bermanfaat!

MANFAAT SHALAT UNTUK KITA

Syekh Ibnu Atha'illah mengungkapkan, "Syekh Abu Al-Hasan Al-Syadzili r.a. didatangi beberapa fukaha (para ahli fikih) dari kota Iskandariyah. Mereka datang untuk menguji Syekh. Beliau mencermati semua dari mereka lalu bertanya, 'Wahai fakih, apakah kalian menunaikan shalat?' Mereka menjawab, 'Ya Syekh, mungkinkah ada di antara kami yang tidak shalat?!'

Syekh menegaskan, 'Allah berfirman, "Manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh-kesah. Kalau ditimpa musibah, ia gelisah dan kalau mendapat kebaikan ia kikir, kecuali orang yang shalat." Nah, apakah keadaan kalian seperti itu? Jika mendapat musibah, kalian tidak gelisah dan kalau mendapat kebaikan kalian tidak kikir?' Mereka terdiam. Lalu beliau melanjutkan, 'Kalau begitu, kalian belum shalat.'"
Kisah yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam ungkapan hikmahnya ini menegaskan manfaat shalat. Selain mencegah perbuatan keji dan mungkar, shalat juga menjadi obat bagi hati agar tidak gelisah dan resah, serta selalu rida kepada Allah. Sebab, hati orang yang shalat selalu terhubung kepada Allah. Ia tidak meminta kepada selain Dia, tidak takut kepada selain Dia, serta selalu memuji Allah, saat senang maupun susah.

Jika mendapat musibah, ia mengucap inna lillah wa inna ilayhi raji'un. Ia menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. Sebab, segala sesuatu berada di tangan-Nya. Apabila Allah menganugerahinya nikmat, ia memberi kepada fakir miskin apa yang menjadi hak mereka. Ia menunaikan zakat dan bersedekah di jalan Allah. Semua itu dilakukan untuk meraih rida Allah Swt."

--Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj Al-'Arus

LIMA DASAR TASAWUF MENURUT IMAM NAWAWI

Al-Imam An-Nawawi Ad-Dimasyqi dalam risalahnya menulis:
“Dasar-dasar tasawuf itu ada 5:
1) Bertakwa pada Allah SWT, baik lahir maupun batinnya.
2) Mengikuti sunnah Nabi SAW dalam perkataan dan perbuatan.
3) Berpaling dari mengutamakan manusia, baik di depan maupun di belakangnya.
4) Ridha terhadap pemberian Allah SWT, baik sedikit ataupun banyak.
5) Kembali dan mengembalikan segalanya kepada Allah SWT, lahir maupun batin.

Takwa sendiri dapat diraih dengan wara’ dan istiqamah. Mengikuti sunnah itu diwujudkan dengan menjaga diri dari dosa dan berakhlak baik. Berpaling dari mengutamakan manusia dicapai dengan sabar dan tawakal. Ridha terhadap pemberian Allah SWT digapai dengan qana’ah dan menyerahkan segalanya pada Allah SWT. Dan kembali pada Allah SWT didapatkan dari sikap syukur kepada-Nya secara lahir dan batin dan berlindung pada-Nya pada saat ditimpa musibah.”
-----Risalah Imam Nawawi Ad-Dimasqi
في أصول التصوف. هي خمسة: تقوى الله في السر والعلانية، واتباع السنة في الأقوال والأفعال، والإعراض عن الخلق في الإقبال والإدبار، والرضا عن الله تعالى في القليل والكثير، والرجوع إلى الله في السراء والضراء.
فتحقيق التقوى: بالورع والاستقامة، وتحقيق اتباع السنة: بالتحفظ وحسن الخلق، وتحقيق الإعراض عن الخلق: بالصبر والتوكل، وتحقيق الرضا عن الله: بالقناعة والتفويض، وتحقيق الرجوع إلى الله تعالى: بالشكر له في السراء والالتجاء إليه في الضراء.

ISTIGHFAR YANG MENARIK IMAM AHMAD SAMPAI BASHRAH

Menjelang akhir hidup Imam Ahmad bin Hambal atau dikenal juga Imam Hambali, beliau bercerita tentang perjalanan yang luar biasa dan mencerahkan jiwanya. Murid utama Imam Syafi'i ini bertutur: "Satu ketika, (saat usiaku telah tua) aku tidak tahu mengapa aku ingin pergi ke Bashrah."
Beliau sendiri merasa heran, mengapa ada dorongan kuat sekali untuk pergi ke Bashrah. Beliau saat itu beliau sedang menetap di Baghdad.Padahal, tidak ada janji sama sekali dengan siapa pun. Dan, tidak ada hajat apa pun di kota itu. Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah.
"Ketika sampai Bashrah, malam telah masuk waktu Isya'. Saya ikut shalat berjamaah Isya di salah satu masjid. Hati saya merasa tenang, lalu saya ingin beristirahat," tutur beliau.
Setelah shalat Isya' ditunaikan dan jamaah telah pun berhambur keluar masjid, maka Imam Ahmad ingin sekadar beristirahat di masjid itu sambil tiduran.
Namun, tiba-tiba Takmir masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, "Wahai Syaikh, apa yang kau lakukan disini?"

Pengurus masjid ini memanggilnya "Syekh" karena orang yang di depannya tampak tua, bukan karena dia orang kaya atau orang alim. Dia sama sekali tidak tahu bahwa orang yang ditemui itu adalah Imam Ahmad. Ulama sangat termashur di zamannya.
"Saya hanya ingin beristirahat. Saya musafir," jawab Sang Imam.
"Tidak boleh! Tidak boleh tidur di masjid ini!" bentak pengurus masjid.
Dengan sikap tawaduknya, Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Padahal di seluruh negeri, semua orang kenal siapa Imam Ahmad. Tetapi, tak semua orang pernah melihatnya langsung.
Terjadilah peristiwa yang menyedihkan, Imam Ahmad diusir dari masjid. Beliau didorong-dorong hingga hampir tersungkur. Setelah beliau di luar, masjid itu pun dikunci.
Setelah berada di luar masjid yang sudah terkunci pintunya, beliau ingin tidur di teras masjid itu karena kelelahan.

Namun, ketika sedang berbaring di teras masjid tersebut, tiba-tiba Marbot itu kembali datang dan memarahi Imam Ahmad.
"Apa lagi yang akan kau lakukan, Syekh?" bentaknya.
"Saya mau tidur, saya musafir," jawab Imam Ahmad.
"Jika di dalam masjid tidak boleh, maka di teras masjid pun tidak boleh," tegas marbot.
Imam Ahmad pun diusir dengan cara yang tak sopan. Bahkan, beliau didorong-dorong hingga ke jalanan.
Kesabaran Imam Ahmad telah teruji. Beliau sama sekali tak marah dan sama sekali tak mau menunjukkan siapa sesungguhnya beliau. Padahal, jika marbot itu tahu siapa sesungguhnya dia, pasti tak akan terjadi peristiwa ini.

Kebetulan, di samping masjid itu ada warung penjual roti. Sebuah rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti. Tampak ada seorang penjual roti yang sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian yang menimpa Sang Imam yang didorong-dorong oleh marbot tadi.
Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, "Kemarilah,Syekh, kau boleh menginap di tempatku. Aku mempunyai tempat, meskipun kecil."
"Baiklah. Terima kasih," jawab Imam Ahmad sambil masuk ke rumahnya. Lalu, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti.
Lagi-lagi, Imam Ahmad sama sekali tidak memperkenalkan siapa dirinya. Beliau hanya mengaku sebagai musafir.

Penjual roti ini punya kebiasaan yang unik. Mungkin seperti orang yang pendiam dan tak banyak basa-basi. Jika Imam Ahmad ngajaknya bicara, baru dia mau menjawabnya. Tapi, jikalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar.
Bacaan istighfarnya tak pernah berhenti. Saat menaruh garam pada adonan, dia menyebut "Astaghfirullah", saat mau memecahkan telur, dia pun menyebut "Astaghfirullah", saat mau mencampur gandum pun mengiringi dengan "Astaghfirullah." Praktis, dalam setiap keadaan dia mendawamkan istighfar.
Peristiwa menarik ini diperhatikan terus-menerus oleh Imam Ahmad.
Lalu beliau bertanya "Sudah berapa lama kau lakukan ini?"
Orang itu menjawab, "Sudah lama sekali syekh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan membaca istighfar."

Lalu, Imam Ahmad bertanya lagi, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?" Penjual roti itu menjawab "(Melalui wasilah istighfar) tidak ada hajat yang aku minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang aku minta Allah, langsung diterima".
Orang ini sangat percaya denga. hadis Nabi,"Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.

"Semua dikabulkan Allah, kecuali satu, masih satu yang belum Allah berikan kepadaku," ungkap penjual roti.
"Apa yang belum Allah kabulkan?" tanya Imam Ahmad penasaran.
Orang itu menjawab, "Aku minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad."
Saat itu juga Imam Ahmad kaget luar biasa hingga beliau bertakbir, "Allahu akbar! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan itu ternyata karena istighfarmu."
Penjual roti pun terperanjat. Dia memuji Allah bekali-kali, karena ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad, orang yang sangat dirindukan dan diharapkannya berada di hadapannya, di dalam rumahnya sendiri. Sebuah tarikan dzikir "istighfar" yang dilantunkan oleh seorang secara terus-meneris mampu menarik kordinat seorang ulama hadis terkemuka dan imam mazhab. Sungguh, betapa indah ajaran istighfar yang pernah diajakan Rasulullah SAW.

---Dirujuk dari kitab Manakib Imam Ahmad

RAHASIA DZIKIR UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

Ibn ‘Abbas r.a. menuturkan, “Ketika Allah Swt. menciptakan ‘Arasy, maka Allah memerintahkan para malaikat pemikul ‘Arasy agar memikul ‘Arasy tersebut. Lalu mereka merasa berat memikulnya, maka Allah Swt. berfirman, ‘Bacalah, ‘subhân allâh.’ Para malaikat itu pun membaca, ‘subhân allâh,’ hingga mereka merasa ringan memiku l ‘Arasy.
Malaikat-malaikat itu terus membaca subhân allâh sepanjang masa, sampai Allah SWT menciptakan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam bersin, maka Allah SWT. mengilhamkan kepadanya agar membaca al-hamdu li-allâh. Maka, Allah Swt. berfirman, ‘Yarhamuka Rabbuka (semoga Tuhanmu merahmatimu). Karena itulah, Aku mciptakanmu, wahai Adam.’ Para malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ke dua yang agung, kami tidak boleh melupakan kalimat ini.
Mereka menyambungkan kalimat tersebut dengan kalimat pertama. Sehingga sepanjang masa malaikat mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh.’ Malaikat-malaikat terus membaca kalimat tersebut sampai Allah mengutus Nabi Nuh a.s.

Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh adalah orang pertama yang menjadikan berhala sebagai sesembahan. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh agar ia menyuruh kaumnya untuk mengatakan, ‘lâ ilaha illa allâh,’ hingga Allah meridai mereka. Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ketiga yang akan kami gabungkan dengan dua kalimat sebelumnya.’
Mereka pun mulai mengatakan Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh. Kalimat ini terus diucapkan oleh para malaikat sepanjang masa, sampai Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt. memerintahkan agar Nabi Ibrahim mengurbankan anak kesayangannya, Isma‘il. Kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba. Ketika Ibrahim melihat domba itu, maka ia berkata, ‘Allâhu Akbar,’ sebagai luapan kegembiraannya.

Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat keempat yang agung. Kami akan menggabungkannya dengan tiga kalimat sebelumnya.’ Akhirnya, para malaikat itu mulai mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh wa Allâhu Akbar.’ Waktu malaikat Jibril menceritakan hal ini kepada Rasulullah saw., maka karena kekagumannya, beliau berkata, ‘Lâ hawla wala quwwata illa billah al-‘alî al-‘azhîm.’ Maka, Jibril berkata, ‘Ini adalah kalimat penutup dari empat kalimat sebelumnya.’”
Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa bertasbih kepada Allah 33 kali setiap kali selesai salat; bertahmid kepada Allah sebanyak 33 kali; dan bertakbir kepada Allah 33 kali; maka, totalnya 99 kali. Kemudian ia menggenapkannya menjadi 100 dengan bacaaan ‘Lâ ilaha illâ Allâh wahdahu lâ syarîka lah lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay’in qadîr. Maka, Allah akan mengampuni semua kesalahan-kesalahannya, meskipun sebanyak buih lautan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan pula bahwa Nabi Musa a.s. mengatakan, “Wahai Tuhanku, bagaimana saya dapat membedakan antara orang yang Engkau cintai dengan orang yang Engkau benci?’ Allah SWT menjawab, ‘Hai Musa, sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’
Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’ Allah SWT menjawab, ‘Aku akan mengilhamkan kepadanya agar ia berzikir kepada-Ku agar Aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka-Ku agar ia tidak terjerumus ke dalam azab dan siksa–Ku. Hai Musa, jika Aku membenci seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’
Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’ Allah SWT menjawab, ‘Aku akan melupakannya berzikir kepada-Ku dan Aku akan melepaskan ikatan antara dirinya dan jiwanya, agar ia terjerumus ke dalam lautan murka-Ku sehingga ia merasakan siksa-Ku.’”

------Syekh 'Abd al-Hamid Anquri dalam Munyah al-Wâ‘ìzhîn wa Ghunyah al-Muta‘azhzhîn