Selasa, 08 November 2016

MANFAAT SHALAT UNTUK KITA

Syekh Ibnu Atha'illah mengungkapkan, "Syekh Abu Al-Hasan Al-Syadzili r.a. didatangi beberapa fukaha (para ahli fikih) dari kota Iskandariyah. Mereka datang untuk menguji Syekh. Beliau mencermati semua dari mereka lalu bertanya, 'Wahai fakih, apakah kalian menunaikan shalat?' Mereka menjawab, 'Ya Syekh, mungkinkah ada di antara kami yang tidak shalat?!'

Syekh menegaskan, 'Allah berfirman, "Manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh-kesah. Kalau ditimpa musibah, ia gelisah dan kalau mendapat kebaikan ia kikir, kecuali orang yang shalat." Nah, apakah keadaan kalian seperti itu? Jika mendapat musibah, kalian tidak gelisah dan kalau mendapat kebaikan kalian tidak kikir?' Mereka terdiam. Lalu beliau melanjutkan, 'Kalau begitu, kalian belum shalat.'"
Kisah yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam ungkapan hikmahnya ini menegaskan manfaat shalat. Selain mencegah perbuatan keji dan mungkar, shalat juga menjadi obat bagi hati agar tidak gelisah dan resah, serta selalu rida kepada Allah. Sebab, hati orang yang shalat selalu terhubung kepada Allah. Ia tidak meminta kepada selain Dia, tidak takut kepada selain Dia, serta selalu memuji Allah, saat senang maupun susah.

Jika mendapat musibah, ia mengucap inna lillah wa inna ilayhi raji'un. Ia menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. Sebab, segala sesuatu berada di tangan-Nya. Apabila Allah menganugerahinya nikmat, ia memberi kepada fakir miskin apa yang menjadi hak mereka. Ia menunaikan zakat dan bersedekah di jalan Allah. Semua itu dilakukan untuk meraih rida Allah Swt."

--Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj Al-'Arus

LIMA DASAR TASAWUF MENURUT IMAM NAWAWI

Al-Imam An-Nawawi Ad-Dimasyqi dalam risalahnya menulis:
“Dasar-dasar tasawuf itu ada 5:
1) Bertakwa pada Allah SWT, baik lahir maupun batinnya.
2) Mengikuti sunnah Nabi SAW dalam perkataan dan perbuatan.
3) Berpaling dari mengutamakan manusia, baik di depan maupun di belakangnya.
4) Ridha terhadap pemberian Allah SWT, baik sedikit ataupun banyak.
5) Kembali dan mengembalikan segalanya kepada Allah SWT, lahir maupun batin.

Takwa sendiri dapat diraih dengan wara’ dan istiqamah. Mengikuti sunnah itu diwujudkan dengan menjaga diri dari dosa dan berakhlak baik. Berpaling dari mengutamakan manusia dicapai dengan sabar dan tawakal. Ridha terhadap pemberian Allah SWT digapai dengan qana’ah dan menyerahkan segalanya pada Allah SWT. Dan kembali pada Allah SWT didapatkan dari sikap syukur kepada-Nya secara lahir dan batin dan berlindung pada-Nya pada saat ditimpa musibah.”
-----Risalah Imam Nawawi Ad-Dimasqi
في أصول التصوف. هي خمسة: تقوى الله في السر والعلانية، واتباع السنة في الأقوال والأفعال، والإعراض عن الخلق في الإقبال والإدبار، والرضا عن الله تعالى في القليل والكثير، والرجوع إلى الله في السراء والضراء.
فتحقيق التقوى: بالورع والاستقامة، وتحقيق اتباع السنة: بالتحفظ وحسن الخلق، وتحقيق الإعراض عن الخلق: بالصبر والتوكل، وتحقيق الرضا عن الله: بالقناعة والتفويض، وتحقيق الرجوع إلى الله تعالى: بالشكر له في السراء والالتجاء إليه في الضراء.

ISTIGHFAR YANG MENARIK IMAM AHMAD SAMPAI BASHRAH

Menjelang akhir hidup Imam Ahmad bin Hambal atau dikenal juga Imam Hambali, beliau bercerita tentang perjalanan yang luar biasa dan mencerahkan jiwanya. Murid utama Imam Syafi'i ini bertutur: "Satu ketika, (saat usiaku telah tua) aku tidak tahu mengapa aku ingin pergi ke Bashrah."
Beliau sendiri merasa heran, mengapa ada dorongan kuat sekali untuk pergi ke Bashrah. Beliau saat itu beliau sedang menetap di Baghdad.Padahal, tidak ada janji sama sekali dengan siapa pun. Dan, tidak ada hajat apa pun di kota itu. Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah.
"Ketika sampai Bashrah, malam telah masuk waktu Isya'. Saya ikut shalat berjamaah Isya di salah satu masjid. Hati saya merasa tenang, lalu saya ingin beristirahat," tutur beliau.
Setelah shalat Isya' ditunaikan dan jamaah telah pun berhambur keluar masjid, maka Imam Ahmad ingin sekadar beristirahat di masjid itu sambil tiduran.
Namun, tiba-tiba Takmir masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, "Wahai Syaikh, apa yang kau lakukan disini?"

Pengurus masjid ini memanggilnya "Syekh" karena orang yang di depannya tampak tua, bukan karena dia orang kaya atau orang alim. Dia sama sekali tidak tahu bahwa orang yang ditemui itu adalah Imam Ahmad. Ulama sangat termashur di zamannya.
"Saya hanya ingin beristirahat. Saya musafir," jawab Sang Imam.
"Tidak boleh! Tidak boleh tidur di masjid ini!" bentak pengurus masjid.
Dengan sikap tawaduknya, Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Padahal di seluruh negeri, semua orang kenal siapa Imam Ahmad. Tetapi, tak semua orang pernah melihatnya langsung.
Terjadilah peristiwa yang menyedihkan, Imam Ahmad diusir dari masjid. Beliau didorong-dorong hingga hampir tersungkur. Setelah beliau di luar, masjid itu pun dikunci.
Setelah berada di luar masjid yang sudah terkunci pintunya, beliau ingin tidur di teras masjid itu karena kelelahan.

Namun, ketika sedang berbaring di teras masjid tersebut, tiba-tiba Marbot itu kembali datang dan memarahi Imam Ahmad.
"Apa lagi yang akan kau lakukan, Syekh?" bentaknya.
"Saya mau tidur, saya musafir," jawab Imam Ahmad.
"Jika di dalam masjid tidak boleh, maka di teras masjid pun tidak boleh," tegas marbot.
Imam Ahmad pun diusir dengan cara yang tak sopan. Bahkan, beliau didorong-dorong hingga ke jalanan.
Kesabaran Imam Ahmad telah teruji. Beliau sama sekali tak marah dan sama sekali tak mau menunjukkan siapa sesungguhnya beliau. Padahal, jika marbot itu tahu siapa sesungguhnya dia, pasti tak akan terjadi peristiwa ini.

Kebetulan, di samping masjid itu ada warung penjual roti. Sebuah rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti. Tampak ada seorang penjual roti yang sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian yang menimpa Sang Imam yang didorong-dorong oleh marbot tadi.
Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, "Kemarilah,Syekh, kau boleh menginap di tempatku. Aku mempunyai tempat, meskipun kecil."
"Baiklah. Terima kasih," jawab Imam Ahmad sambil masuk ke rumahnya. Lalu, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti.
Lagi-lagi, Imam Ahmad sama sekali tidak memperkenalkan siapa dirinya. Beliau hanya mengaku sebagai musafir.

Penjual roti ini punya kebiasaan yang unik. Mungkin seperti orang yang pendiam dan tak banyak basa-basi. Jika Imam Ahmad ngajaknya bicara, baru dia mau menjawabnya. Tapi, jikalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar.
Bacaan istighfarnya tak pernah berhenti. Saat menaruh garam pada adonan, dia menyebut "Astaghfirullah", saat mau memecahkan telur, dia pun menyebut "Astaghfirullah", saat mau mencampur gandum pun mengiringi dengan "Astaghfirullah." Praktis, dalam setiap keadaan dia mendawamkan istighfar.
Peristiwa menarik ini diperhatikan terus-menerus oleh Imam Ahmad.
Lalu beliau bertanya "Sudah berapa lama kau lakukan ini?"
Orang itu menjawab, "Sudah lama sekali syekh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan membaca istighfar."

Lalu, Imam Ahmad bertanya lagi, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?" Penjual roti itu menjawab "(Melalui wasilah istighfar) tidak ada hajat yang aku minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang aku minta Allah, langsung diterima".
Orang ini sangat percaya denga. hadis Nabi,"Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.

"Semua dikabulkan Allah, kecuali satu, masih satu yang belum Allah berikan kepadaku," ungkap penjual roti.
"Apa yang belum Allah kabulkan?" tanya Imam Ahmad penasaran.
Orang itu menjawab, "Aku minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad."
Saat itu juga Imam Ahmad kaget luar biasa hingga beliau bertakbir, "Allahu akbar! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan itu ternyata karena istighfarmu."
Penjual roti pun terperanjat. Dia memuji Allah bekali-kali, karena ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad, orang yang sangat dirindukan dan diharapkannya berada di hadapannya, di dalam rumahnya sendiri. Sebuah tarikan dzikir "istighfar" yang dilantunkan oleh seorang secara terus-meneris mampu menarik kordinat seorang ulama hadis terkemuka dan imam mazhab. Sungguh, betapa indah ajaran istighfar yang pernah diajakan Rasulullah SAW.

---Dirujuk dari kitab Manakib Imam Ahmad

RAHASIA DZIKIR UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

Ibn ‘Abbas r.a. menuturkan, “Ketika Allah Swt. menciptakan ‘Arasy, maka Allah memerintahkan para malaikat pemikul ‘Arasy agar memikul ‘Arasy tersebut. Lalu mereka merasa berat memikulnya, maka Allah Swt. berfirman, ‘Bacalah, ‘subhân allâh.’ Para malaikat itu pun membaca, ‘subhân allâh,’ hingga mereka merasa ringan memiku l ‘Arasy.
Malaikat-malaikat itu terus membaca subhân allâh sepanjang masa, sampai Allah SWT menciptakan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam bersin, maka Allah SWT. mengilhamkan kepadanya agar membaca al-hamdu li-allâh. Maka, Allah Swt. berfirman, ‘Yarhamuka Rabbuka (semoga Tuhanmu merahmatimu). Karena itulah, Aku mciptakanmu, wahai Adam.’ Para malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ke dua yang agung, kami tidak boleh melupakan kalimat ini.
Mereka menyambungkan kalimat tersebut dengan kalimat pertama. Sehingga sepanjang masa malaikat mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh.’ Malaikat-malaikat terus membaca kalimat tersebut sampai Allah mengutus Nabi Nuh a.s.

Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh adalah orang pertama yang menjadikan berhala sebagai sesembahan. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh agar ia menyuruh kaumnya untuk mengatakan, ‘lâ ilaha illa allâh,’ hingga Allah meridai mereka. Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ketiga yang akan kami gabungkan dengan dua kalimat sebelumnya.’
Mereka pun mulai mengatakan Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh. Kalimat ini terus diucapkan oleh para malaikat sepanjang masa, sampai Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt. memerintahkan agar Nabi Ibrahim mengurbankan anak kesayangannya, Isma‘il. Kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba. Ketika Ibrahim melihat domba itu, maka ia berkata, ‘Allâhu Akbar,’ sebagai luapan kegembiraannya.

Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat keempat yang agung. Kami akan menggabungkannya dengan tiga kalimat sebelumnya.’ Akhirnya, para malaikat itu mulai mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh wa Allâhu Akbar.’ Waktu malaikat Jibril menceritakan hal ini kepada Rasulullah saw., maka karena kekagumannya, beliau berkata, ‘Lâ hawla wala quwwata illa billah al-‘alî al-‘azhîm.’ Maka, Jibril berkata, ‘Ini adalah kalimat penutup dari empat kalimat sebelumnya.’”
Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa bertasbih kepada Allah 33 kali setiap kali selesai salat; bertahmid kepada Allah sebanyak 33 kali; dan bertakbir kepada Allah 33 kali; maka, totalnya 99 kali. Kemudian ia menggenapkannya menjadi 100 dengan bacaaan ‘Lâ ilaha illâ Allâh wahdahu lâ syarîka lah lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay’in qadîr. Maka, Allah akan mengampuni semua kesalahan-kesalahannya, meskipun sebanyak buih lautan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan pula bahwa Nabi Musa a.s. mengatakan, “Wahai Tuhanku, bagaimana saya dapat membedakan antara orang yang Engkau cintai dengan orang yang Engkau benci?’ Allah SWT menjawab, ‘Hai Musa, sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’
Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’ Allah SWT menjawab, ‘Aku akan mengilhamkan kepadanya agar ia berzikir kepada-Ku agar Aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka-Ku agar ia tidak terjerumus ke dalam azab dan siksa–Ku. Hai Musa, jika Aku membenci seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’
Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’ Allah SWT menjawab, ‘Aku akan melupakannya berzikir kepada-Ku dan Aku akan melepaskan ikatan antara dirinya dan jiwanya, agar ia terjerumus ke dalam lautan murka-Ku sehingga ia merasakan siksa-Ku.’”

------Syekh 'Abd al-Hamid Anquri dalam Munyah al-Wâ‘ìzhîn wa Ghunyah al-Muta‘azhzhîn

Minggu, 08 November 2015

CAHAYA-CAHAYA MAKRIFAT



MACAM-MACAM CAHAYA BATIN YANG MENGGODA
“Ada cahaya yang menyingkap jejak-jejak-Nya dan ada cahaya yang menyingkap sifat-sifat-Nya.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa ada cahaya yang menyingkap keadaan makhluk-makhluk sehingga ia menyinari ahwal (keadaan spiritual) para hamba dan menyinari yang ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq (para ahli hakikat).

Ada pula cahaya yang menyingkap sifat-sifat Allah dan keindahan-Nya. Cahaya ini tak akan terlihat, kecuali para orang-orang yang darinya tampak sifat-sifat Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immateril). Kasyaf inilah yang dicari oleh para muhaqqiq.

Syekh Ibnu Atha’illah tidak mengatakan, “Ada cahaya menyingkap dzat-Nya,” karena penampakkan dzat Allah yang murni dan bersih dari sifat-sifat masih menjadi perdebatan di kalangan mereka. Sebagian dari mereka menafikan. Sebagian yang lain membenarkan kemungkinannya.

Syekh Muhyiddin Ibn Arabi menyebut penampakkan dzat Allah yang murni ini dengan bawariq (kilat), karena ia datang dan hilang dengan cepat, dan manusia tidak sanggup menerimanya dalam waktu lama.”

Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam mengatakan: “Boleh jadi kalbu terhenti pada cahaya-cahaya, sebagaimana terhijabnya kalbu oleh gelapnya bayang-bayang ciptaan.”

Menurut Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, boleh jadi kalbu kita tertutup oleh cahaya-cahaya dan terhenti dari perjalanannya menuju Allah, sebagimana jiwa tertutup oleh tebalnya ciptaan, syahwat, dan kenikmatan sehingga terhalang dari Allah SWT.

Hijab yang menghalangi dari Allah itu ada dua macam:
Pertama, hijab yang bersumber dari cahaya, yakni ilmu dan pengetahuan. Jika hati terhenti padanya, maka ia akan merasa cukup dengannya dan menjadikannya sebagai tujuan dan maksud. Kedua, hijab yang bersumber dari kegelapan, yakni nafsu syahwat dan kebiasaanya. Ia digambarkan dengan ketebalan dan kegelapan, karena tidak dapat dihilangkan, kecuali dengan perjuangan dan penderitaan.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

MARI BELAJAR MAKRIFAT



WUSHUL (SAMPAI) KEPADA ALLAH MENURUT SYEKH IBNU ATHA’ILLAH
“Wushul (sampai) kepada Allah adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya, karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa sampainya kita kepada Allah, seperti diisyaratkan oleh ahli tarekat, adalah sampainya kita kepada penyaksian-Nya dengan mata batin kita. Inilah yang disebut dengan penyaksian langsung atau ‘ilmul-yaqiin terhadap tajalli (penampakan) Allah dan limpahan kasih sayang-Nya.

Penyaksian ini juga disebut sebagai perkenalan langsung dengan mata batin dan perasaan fitrah. Para ahli syuhud berbeda-beda dalam mendapatkannya. Ada yang mendapatkan tajalli perbuatan Allah. Disini, perbuatan mereka dan perbuatan selain mereka sirna melebur dalam perbuatan Allah. Mereka tidak melihat sosok pelaku sebuah perbuatan, kecuali Allah. Pada kondisi ini, mereka akan keluar dari ikhtiar dan usaha. Ini adalah tingkatan pertama sampainya seseorang kepada Allah (wushul).

Ada pula yang mendapatkan tajalli sifat-sifat Allah. Disini mereka akan berdiri penuh pengagungan dan kerinduan terhadap apa yang dilihat oleh mata batin mereka, berupa keagungan dan keindahan Allah. Ini adalah tingkatan kedua sampainya seseorang kepada Allah.

Di antara mereka ada yang sampai kepada maqam kefanaan. Batinnya berisi cahaya keyakinan dan musyahadah. Ketika syuhud, ia tidak lagi merasakan wujud dirinya. Ini adalah tajalli dzat yang berlaku pada kaum khusus dan orang-orang muqarrabin. Ini adalah tingkatan ketiga dalam wushul.

Di atasnya lagi ada tingkatan haqqul yaqiin. Di dunia, tingkatan ini terjadi dalam bentuk lamh (pandangan sekilas), yaitu mengalirnya cahaya musyahadah di sekujur tubuh seorang hamba sampai ruhnya pun turut mendapatkannya, demikian pula kalbu dan jiwa-nya. Ini adalah tingkatan tertinggi wushul.

Dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif disebutkan, “Jika segala hakikat telah diraih, seorang hamba dengan ahwalnya yang mulia ini akan mengetahui bahwa dirinya masih berada di tingkat pertama. Lalu, bagaimana dengan wushul haqiqi (wushul secara fisik)? Mustahil, karena  jalan wushul tidak akan pernah terputus selamanya, sepanjang usia akhirat yang abadi. Lantas, bagaimana mungkin wushul haqiqi itu terjadi di umur dunia yang pendek ini?

Jadi, yang dimaksud dengan wushul adalah sampainya kita kepada pengetahuan tentang Allah dengan media perasaan dan fitrah. Jika pengertiannya tidak demikian, berarti wushul kita tidak benar, karena Allah tidak mungkin menyentuh atau disentuh sesuatu secara lahir dan batin. Bagaimana mungkin Dzat yang tidak ada bandingnya akan bersentuhan dengan sesuatu yang memiliki bandingan. Padahal, syarat terjadinya persentuhan adalah adanya kesamaan sifat di antara keduanya. Sedangkan, secara mutlak tak ada kesamaan antara Dzat Yang Maha Sempurna dengan sesuatu yang tidak sempurna atau kurang sempurna.
Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam juga mengatakan: “Kedekatanmu dengan-Nya adalah ketka engkau menyaksikan-Nya mendekatimu, karena bagaimana mungkin engkau bisa mendekati-Nya?”

Menurut Syekh Syarqawi, kedekatan kita kepada-Nya adalah ketika kita menyaksikan-Nya secara maknawi sehingga engkau merasa sangat diawasi oleh-Nya. Buahnya adalah, engkau akan terdorong untuk selalu bersikap sopan saat ada di hadirat-Nya. Jadi, hal yang penting di sini adalah bagaimana engkau menyaksikan kedekatan-Nya. Dengan penyaksian ini, kau merasa diawasi dan dikuasai oleh rasa takut yang akan mendorongmu untuk bersikap sopan saat bertamu kepada-Nya. Inilah pengertian kedekatan seorang hamba dengan Allah; dan tidak mungkin makhluk dapat mendekati-Nya secara nyata.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

Selasa, 20 Oktober 2015

TAWASUL & MANAQIB SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Memahami Makna Tawasul dan Manaqib

Acara Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sering kali dijumpai di pesantren dan halaqah-halaqah sufi di Nusantara. Jamaahnya bisa mencapai ribuan orang. Mereka datang untuk mendengarkan ceramah, mengalap berkah dan menimba ilmu, sambil berdzikir dan munajat bersama guru-guru mereka. Namun, kerap kali, selalu ada saja segelintir orang yang mempertanyakan acara semacam ini. Mereka menganggapnya sebagai bid’ah.

KH Bisri Mustofa pernah ditanya oleh beberapa orang tentang Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Fulan: “Apa hukumnya membaca Manaqib?”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Mengertikan saudara arti kata manaqib? Kata-kata manaqib itu adalah bentuk jamak dari manqabah, yang artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang.
Jadi, membaca manaqib artinya membaca cerita kebaikan amal dan akhlak terpujinya seseorang.  Oleh sebab itu, kata-kata manaqib hanya khusus bagi orang-orang yang baik dan mulia, seperti Manaqib Umar bin Khattab, Manaqib Ali bin Abi Thalib, Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Manaqib Sunan Bonang, dan lain sebagainya. Tidak boleh dan tidak benar kalau ada orang yang berkata Manaqib Abu Jahal, Manaqib DN Aidit dan lain sebagainya. Kalau demikian artinya pada manaqib, apakah saudara masih tetap menanyakan hukumnya manaqib?”

Fulan: “Betul. Tetapi cerita di dalam Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani itu terlalu berlebihan sehingga tidak masuk akal. Misalnya, kantong berisi dinar diperas lalu keluar menjadi darah, tulang-tulang ayam yang berserakan, diperintah berdiri lalu bisa berdiri menjadi ayam jantan”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Kalau saudara melanjutkan cerita-cerita yang tidak masuk akal, sebaiknya jangan hanya berhenti sampai ceritanya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani saja, tetapi teruskanlah! Misalnya cerita sahabat Umar bin Khattab berkirim surat kepada Sungai Nil, sahabat Umar bin Khattab memberi komando dari Madinah kepada prajurit-prajurit yang sedang bertempur di tempat yang jauh dari Madinah. Cerita tentang Isra Mi’raj, tentang tongkat menjadi ular, cerita gunung yang pecah, kemudian keluar onta yang besar dan sedang bunting, cerita tentang Nabi Isya yang menghidupkan orang yang sudah mati. Dan, masih banyak lagi yang semuanya itu sama sekali tidak masuk akal.”

Fulan: “Kalau cerita itu keluar dari Nabi Allah sudah memang mukjizat, padahal Syekh Abdul Qadir Al-Jailani itu bukan nabi, apa bisa menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal?”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Baik Nabi Allah ataupun Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau sahabat Umar bin Khattab, semuanya itu masing-masing tidak bisa menimbulkan hal-hal yang tidak masuk akal. Tetapi, kalau Allah Ta’ala membuatnya bisa, apakah saudara dapat menghalanginya?”

Fulan: “Apakah selain Nabi Allah juga mempunyai mukjizat?”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Hal-hal yang menyimpang atau keluar dari adat (kebiasaan) itu kalau keluar dari Nabi Allah maka dinamakan mukjizat, dan kalau keluar dari wali Allah dinamakan karomah.”
Fulan: “Apakah dalil yang menunjukkan bahwa selain Nabi Allah dapat membuatnya bisa (mampu) menimbulkan hal-hal yang menyimpang dari adat atau tidak masuk akal?”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Silakan saudara baca cerita dalam Al-Quran tentang sahabat Nabi Allah Sulaiman yang dibuat menjadi bisa oleh Allah untuk memindahkan Arsy Balqis dalam QS An-Naml [27]: 40: “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Ku). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) diri sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Fulan: “Tetapi, di dalam Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ada juga kata-kata memanggil kepada ruh yang suci atau kepada wali-wali yang sudah mati untuk dimintai pertolongan, apakah itu tidak menjadikan musyrik?”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Memanggil-manggil untuk dimintai pertolongan, baik kepada wali yang sudah mati atau kepada Bapak-ibu saudara yang masih hidup dengan penuh ‘itikad bahwa pribadi wali atau pribadi Bapak-ibu saudara itu mempunyai kekuasaan untuk dapat memberi pertolongan yang terlepas dari kekuasaan Allah Ta’ala, maka itu hukumnya syirik!
Tetapi, kalau dengan ‘itikad bahwa segala sesuatu adalah dari Allah Ta’ala, maka itu tidak ada halangannya, apalagi sudah jelas bahwa kita meminta pertolongan (ghauts) kepada para wali itu maksudnya minta dimohonkan kepada Allah Ta’ala.”

Fulan: “Manakah yang lebih baik, berdoa kepada Allah secara langsung atau dengan perantara (tawasul)?”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Langsung boleh..Dengan perantara pun boleh. Sebab, Allah Ta’ala Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Saudara jangan mengira bahwa tawasul kepada Allah melalui nabi-nabi, wali-wali itu sama dengan saudara memohon kenaikan pangkat kepada atasan dengan perantara kepala kantor atau atasan Anda. Pengertian tawasul yang demikian itu tidak benar. Sebab berarti mengalihkan pandangan terhadap yang ditujukan (pihak atasan), beralih kepada pihak perantara, sehingga di samping mempunyai kepercayaan terhadap kekuasaan pihak atasan, saudara juga  percaya kepada kekuasaan pihak perantara. Tawasul kepada Allah tidak seperti itu!
Kalau saudara ingin contoh tawasul kepada Allah Ta’ala melalui nabi-nabi dan wali-wali itu, seperti orang sedang membaca Al-Qur’an dengan memakai kacamata. Orang itu tetap memandang Al-Qur’an dan tidak dapat dikatakan melihat kaca.”

Fulan: “Bukankah Allah berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan.’ Atau firman-Nya ‘Dan orang-orang yang tidak menyembah bersama Allah akan Tuhan yang lain”..QS Al-Furqan:68. Dan, masih banyak lagi ayat yang lain.”
KH Bisri Mustofa menjawab: “Betul. Tetapi semuanya itu sama sekali tidak melarang kita bertawasul dengan pengertian sebagaimana yang telah saya terangkan tadi. Coba perhatikan contoh cerita berikut ini:
Saudara mempunyai seorang majikan yang kaya-raya, yang memiliki perusahaan besar. Saudara sudah sangat kenal baik dengan beliau, bahkan Anda termasuk pekerja yang paling dekat dengannya. Lalu, saya ingin diterima bekerja di perusahaannya. Untuk melamar pekerjaan itu, Anda (sebagai guru saya) saya ajak menghadap kepadanya bersama-sama, dan saya berkata. “Bapak pimpinan perusahaan yang mulia, kedatangan saya bersama guru saya ini, ada maksud yang ingin saya sampaikan, yaitu mohon diterima menjadi pekerja di perusahaan Bapak. Saya ajak guru saya menghadap Bapak karena saya pandang guru saya ini adalah orang baik hati dan jujur, serta juga kenal baik dengan Bapak.” Coba perhatikan, kepada siapa saya memohon? Kemudian adakah gunanya saya mengajak saudara menghadap majikan itu?
Misalnya, ada dua orang pengemis. Pengemis pertama datang sendirian. Sedangkan pengemis kedua datang dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Anak yang satu masih menyusu dan anak yang satu lagi baru bisa berjalan. Di antara kedua pengemis itu, mana yang lebih mendapat perhatian Saudara? Saudara tentu akan menjawab, pengemis kedua yang membawa anak-anak itu yang lebih diperhatikan bukan? Kalau begitu, apakah ada gunanya pengemis itu membawa anak-anak yang masih kecil? Kepada siapa pengemis itu meminta? Apa pengemis itu meminta kepada anak-anaknya yang masih itu? Tentu tidak bukan?!”
--Dikutip dari buku Wirid-wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Rahasia Amalan-Amalan untuk Meraih Cinta Sejati, Ust. M. Syukron Maksum.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sahabat-sahabatku di Tasawuf Underground, saya ucapkan terima kasih kunjungannya di fanpage ini. Semoga kiriman artikel dari halaman ini bermanfaat untuk menimba tasawuf dan silaturahmi antar salik.
Kami membantu untuk mendapatkan kitab-kitab terjemah yang membahas makna syariat, tarekat, makrifat dan hakikat yang tentu akan semakin membantu kita dalam mempelajari ilmu-ilmu hikmah dari sumber dan rujukan yang otoritatif. Dia antara buku-buku yang kami sediakan adalah:
1) Sirrul Asrar (Rasaning Rasa), Syekh Abdul Qadir Jailani, terjmh KH Zezen ZA Bazul Asyhab, hardcover, Rp 65.000.
2) Tafsir Al-Jailani, karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani trjemah Tim Markaz Al-Jailani (2 jilid/6 Juz), hardcover, Rp 230.000.
3) Fath Ar-Rabbani, Meraih Cahaya Ilahi, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, hardcover, Rp 115.000.
4) SUNAN GUNUNG JATI: Petuah, pengaruh dan Jejak-jejak Sang Wali, karya Prof Dr. Dadan Wildan, softcover, Rp 55.000.
5) Wasiat-wasiat Sufistik HASAN AL-BASHRI, softcover, Rp 25.000.
6) Minhajul-‘Abidin, karya Imam Al-Ghazali, hardcover, Rp 110.000.
7) Kitab At-Tawbah (dari Ihya Ulumuddin), Rahasia Tobat, Imam Al-Ghazali, hardcover, Rp 59.000.
8) Kitab Ash-Shabr (dari Ihya Ulumuddin), Terapi Sabar, Imam Al-Ghazali, hardcover Rp 59.000.
9) Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari, hardcover, Rp 59.000.
10) Mukjizat Huruf-Huruf Al-Quran, Didik Suharyo, softcover, Rp 65.000.
11) Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali, Republika (9 jilid), hardcover Rp 1.105.000,-(Dapat dibeli per jilid) Jilid 1,Ilmu dan Keyakinan,110rb Jilid 2,Rahasia Ibadah,125rb Jilid 3,Akhlak keseharian,125rb Jilid 4,keajaiban qalbu,120rb Jilid 5,Bahaya Lisan,110rb Jilid 6,Dunia & Godaannya,125rb Jilid 7,Pintu Taubat,130rb Jilid 8,Sabar & Syukur,125rb Jilid 9,Zuhud,Cinta & Kematian,160rb
12) Manhaj Aqidah,Imam Syafi'i, Rp 125.000
13) Al-Mahabbah,Kitab Cinta & Rindu,Rp 80.000
14) Mawaizh al-Imam al-Hasan al-Bashri (Untaian Hikmah Hasan Bashri),Rp 60.000
15) Mawaizh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Untaian Hikmah Syekh AQJ),Rp 45.000
16) Mawaizh Imam al-Ghazali (Untaian Hikmah Imam Al-Ghazali),Rp 35.000
17) Maraqi al-Ubuddiyah,Syekh Nawawi al-Bantani,Rp 75.000
18) Latha-iful-Minan, Syekh Ibnu Atha'illah, Rp 70.000.
19) Nashaihul 'Ibad (Kumpulan Nasihat Pilihan) Syekh Nawawi Al-Bantani, Rp 75.000.
20) Dzikr Al-Maut (Metode Menjemput Maut), bagian akhir kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Rp 65.000.
21) Al-Ghunyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Rp 65.000.

Untuk pemesanan hubungi Ibu Ina, via sms/wa: 08122476797. Harga belum termasuk ongkos kirim.
Terima kasih atas partipasi Anda.
Salam,
Halim Ambiya
Pendiri & Admin Tasawuf Underground