Sabtu, 04 November 2017

HALAQAH SUFI TASAWUF UNDERGROUND

#KOPDAR TASAWUF UNDERGROUND
"Mengaji Wahdatul-Wujud Syekh Ibnu Arabi" bersama Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, MA.

Selama ini konsep pemikiran dan ajaran Syekh Ibnu Arabi seringkali disalahartikan. Bahkan, sering kali beliau dianggap sesat oleh kalangan yang berpahaman sempit. Pro dan kontra pun bertambah panjang. Wahdatul-wujud dianggap bertentangan dengan akidah Islam.

Padahal, wahdatul-wujud berbeda dari konsep panteisme (‘Tuhan menyatu dengan alam’). Namun masih ada yang mengatakan Wahdat al-wujud berasal dari doktrin trinitas agama nasrani. Wahdat al-wujud adalah spirit pluralisme agama dan banyak penafsiran lainnya.

Sebenarnya, Syekh Ibnu Arabi menjelaskan Tauhid Sufi dengan cara yang lebih cerdas dan filosofis. Ini sebenarnya menguatkan bangunan teori akidah Asy'ariyah dan mazhab Ahlussunah Wal Jamaah.

Kata wahdah ( وحدة) berarti ‘satu’ atau ‘kesatuan’ dan al-wujud (الوجود ) artinya ‘wujud’ atau ‘ada’. Diterjemahkan kesatuan wujud (yang Ada). Al-wujud menggunakan isim ma’rifah yang bermakna wujud yang sudah jelas. Artinya al-wujud yang dimaksud disini adalah Allah. Makna ini disepakati oleh Para ulama sufi. Kata al-wujud hanya milik Allah dan dinisbahkan hanya kepadaNya sebagai wajib al-wujud. Kata al-wujud tidak bisa dilekatkan pada makhluk, Karena makhluk itu bersifat sementara, fana dan akan musnah.

Sedangkan, secara istilah wahdat al-wujud bisa diartikan yaitu kesatuan wujud (Allah) atau satu-satunya wujud hanyalah Allah. Jika dipahami secara detail, maka makna wahdatul wujud  hanya dapat dimengerti apabila pemahaman Tauhid sudah berada pada tingkatan khawwas.

Bagi kaum sufi, wahdatul-wujud, wihdatus-syuhud, hulul, fana, mahabbah dan makrifatullah itu adalah perkara sudut pandang soal rasa. Seperti menikmati suguhan buah apel. Masing-masing menikmati dengan citra rasa berbeda; manis, asem-manis, asem-manis-sepet, atau rasa lain yang susah didefinisikan. Begitu juga tentang aroma dari apel tersebut.

Dan, dari zaman ke zaman, pemikiran dan gaya bahasa beliau tentang tauhid ini sangat memikat dan mengasyikan, tetapi sekaligus sering dianggap membingungkan.

Bagaikan orang memasuki kebun besar, ia mendapatkan berbagai jenis pepohonan dengan aroma bunga segar dan pemandangan indah alam surgawi - namun ia bisa merasa was-was oleh kemungkinan adanya berbagai bahaya yang selalu membuntutinya, seperti tersesat jalan atau terperangkap dalam gelap malam.

Prof Dr. Kautsar Azhari Noer, MA membimbing kita pada pandangan Syekh Ibnu Arabi yang sebenarnya. Dia ingin mengeluarkan kita dari paradoks seperti itu. Beliau adalah salah satu pakar dari sedikit orang di Indonesia yang memahami konsep pemikiran Syekh Ibnu Arabi. Melalui riset dan karya-karya akademiknya, kita bisa belajar menyelami ajaran tasawuf dengan mudah, sehingga diharapkan agar para salik dan masyarakat umum mendapat tambahan bekal dan wawasan ilmu yang cukup.

Acara akan diselenggarakan di Kafe Sufi Tasawuf Underground:
Jl Inpres No 70 A, Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
Minggu, 12 November 2017
Pukul: 10.00-16.00 WIB
Konfirmasi: Ust Mukhtaruddin telp/Watsap: 0896-29-953-953.

Rangkaian acara:
1.) Shalawat & Dzikir 10.00-10.30 WIB

2.) Ramahtamah Kopi Bareng/ Makan siang 10.30-12.00 WIB

3) Shalat Dzuhur di Masjid Ruhama 12.00 - 12.30 WIB

4.) Mengaji Wahdatul-Wujud Syekh Ibnu Arabi bersama Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, MA. 12.30- 15.00.WIB

5) Diskusi Tasawuf dipimpin Ust Halim Ambiya. 15.00-16.00WIB

Semoga Allah SWT memudahkan jalan bagi kita dalam membuka pintu-pintu makrifat. Semoga forum ini menambah jalinan persaudaraan, saling berbagi ilmu dan pengalaman, serta berbagi berkah dalam meniti jalan hikmah. Semoga kita selalu mendapat ridha Ilahi.
Salam

Halim Ambiya
Pendiri & Admin TU

KITAB SIRRUL ASRAR KEMBALI HADIR

SIRRUL ASRAR (Rasaning Rasa)
"Buku ini adalah rujukan utama ilmu tasawuf. Sulthanul Auliya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, mengupas secara mendalam tentang makna-makna syariat, tarekat, makrifat dan hakikat yang dibutuhkan bagi umat Islam."
--Prof Dr. KH Nasaruddin Umar MA.

RUJUKAN KITAB TASAWUF
Kitab Sirrul Asrar wa Mazharul Anwar karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ini diterjemahkan oleh Guruku, Allahu yarham, KH Zezen Zainal Abidin Al-Bazul Asyhab, TQN Suryalaya. Ini adalah buku panduan mujahadah bagi para pencari kebenaran dalam madrasah tasawuf. Penerjemahnya adalah seorang penyelam dalam ilmu tasawuf sehingga membantu kita memahami makna-makna batin yang dalam.

Atas permintaan banyak sahabat dan demi melangsungkan syiar seperti amanat Pangersa Uwak KH Zezen, buku ini kembali diterbitkan.

Di dalam kitab ini dijelaskan tentang hakikat dzikir, khalwat, 'uzlah, dan berbagai tema lainnya. Buku ini memandu para salik menempuh jalan sufi agar mudah dan cepat menuju puncak ilmu dan iman hingga selalu merasa hadir bersama Allah SWT (hudhur), atau minimal sadar bahwa Allah SWT hadir bersama kita. Sangat tepat untuk menambah wawasan dalam berguru kepada Sang Mursyid.

Pengarang : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Penerjemah : KH. Zezen ZA Bazul Asyhab
Penerbit : Salima Publika dan Pustaka Azzainiyyah.

Harga Hardcover Rp 75.000, Softcover Rp 60.000. (Belum termasuk Ongkir)
Hubungi Bu Ina via Watsaap 08122476797

TERJEMAH KITAB-KITAB TASAWUF
Untuk memudahkan kajian tasawuf di forum ini, kami juga membantu Anda mendapatkan terjemah kitab-kitab tasawuf dari para guru-guru sufi terkemuka. Berikut ini daftar buku yang kami sediakan:
1. Sirrul Asrar (Rasaning Rasa), Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Hardcover Rp. 75.000, Softcover Rp 60.000.
2. Al-Ghunyah li Thalibi Thariq, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Rp 65.000.
3. Fathu Rabbani, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Rp 115.000.
4. Tahafut Al-Falasifah, Imam Al-Ghazali, Rp 95.000.
5. Dzikrul-Maut, Imam Al-Ghazali, Rp 109.000.
6. Minhajul 'Abidin, Imam Al-Ghazali, Rp 127.000.
7. Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali, Rp 55.000.
8. Risalah Al-Laduniyah, Imam Al-Ghazali, Rp 45.000.
9. Al-Mawa'izh fi al-Ahadis Al-Qudsiyyah, Imam Al-Ghazali, Rp 55.000.
10. Mi'raj as-Salikin, Imam Al-Ghazali, Rp 65.000.
11. Al-Munqidz min Adh-Dhalal, Imam Al-Ghazali, Rp 55.000.
12. Misykat Al-Anwar, Imam Al-Ghazali, Rp 50.000.
13. Ajaib al-Qalbi, Awwal min Rubb'al-Muhlikat, Imam Al-Ghazali, Rp 50.000.
14. Ikhtisar Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali, Rp 165.000.
15. Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari, Rp 120.000.
16. Tahafut at-Tahafut, Ibnu Rusyd, Rp 55.000.
17. Nashaihul-Ibad, Syekh Nawawi Al-Bantani, Rp 75.000.
18. Maraqi al Ubudiyyah, Syekh Nawawi al Bantani, Rp 75.000
19. Raudhatut Thalibin wa 'Umdatus Salikin, Imam al-Ghazali, Rp 75.000

Untuk order, silakan hubungi Bu Ina melalui telpon/Watsaap 08122476797. Harga belum termasuk ongkos kirim.

Demikian informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat dan mendapat berkah Ilahi.
Salam

Halim Ambiya
Pendiri dan Admin Tasawuf Underground

Minggu, 19 Februari 2017

BELAJAR ILMU TAUHID

PAHAMILAH TAUHID PARA GURU SUFI
Imam Al-Qusyairi mengatakan:
“Ketahuilah, wahai hamba-hamba yang dikasihi Allah, sesungguhnya para guru kaum sufi telah membangun kaidah-kaidah ajaran sufi di atas prinsip ketauhidan yang benar. Mereka menjaganya dari bid’ah; mendekatkannya dengan tauhid yang mereka peroleh dari para salaf dan ahli sunnah. Ajarannya tidak mengandung unsur tasybih maupun ta’thil. Mereka mengerti apa yang menjadi hak Allah Dzat Yang Mahadahulu. Mereka memahami benar ‘ketiadaan’ yang menjadi karakter dasar makhluk. Oleh karena itu, seseorang guru kaum sufi, Imam al-Junaid, semoga Allah selalu merahmatinya, berkata, “Tauhid adalah pengesaan Tuhan yang Mahadahulu oleh makhluk ciptaan-Nya.”

Kaum sufi menguatkan dasar-dasar keyakinan akidah mereka dengan dalil-dalil yang jelas dan bukti-bukti yang kuat. Dalam hal ini Imam Ahmad bin Muhammad al-Jariri—semoga Allah merahmatinya—berkata, “Barangsiapa belum mengusai ilmu tauhid beserta argumen-argumennya, maka telapak kaki yang tertipu pasti akan tergelincir ke dalam kerusakan hawa nafsu.”

Artinya, barangsiapa yang hanya mengandalkan taklid dan tidak berusaha merenungi argumen-argumen tauhid, dia akan menyimpang dari jalan yang dapat menyelamatkannya dan tertawan di lembah kerusakan. Sedangkan bagi orang yang mau merenungi pernyataan-pernyataan para guru sufi lalu mengamatinya dengan seksama, secara keseluruhan maupun sebagiannya, maka ia akan menjumpai sesuatu yang menjadi kuat dengan perenungannya, bahwa kaum sufi tidak dapat melalaikan hakikat kebenaran dan tujuan akhir dan mereka tidak akan dapat mengalami peningkatan ruhaniyah (mi’raj) dalam pencariannya dengan berpijak pada kelalaian.”

—Risalah Al-Qusyariyah, Imam Al-Qusyairi An-Naisaburi

NASEHAT DARI SHULTANUL AWLIA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Kebanyakan dari kalian tidak bersentuhan dengan kenyataan. Kalian berpura-pura mempraktikkan Islam, sedangkan pada kenyataannya kalian tidak mengamalkannya secara sungguh-sungguh.  Celakalah kalian! Kalian hanya menyandang nama Islam saja, tetapi tidak mendatangkan kebaikan apa pun karena kalian melalaikannya.

Kalian mungkin melaksanakan syariat, tetapi hanya pada lahirnya saja, tanpa pengamalan batin. Pengamalanmu hanya di lapisan lahir sehingga  tak bernilai sama sekali. Bentuk lahiriah kalian mungkin berada di mihrab, tetapi wujud batin kalian sedang pamer (riya) dan kalian sedang berbuat munafik. Dari permukaan kalian dipandang shaleh dan penuh pengabdian kepada Allah, padahal kenyataannya tidak karena wujud batin kalian penuh dengan hal-hal haram.
Kalian mungkin melihat diri kalian bersih dari noda dalam padangan para ahli syariatm tetapi bagaimana mungkin kalian dapat lolos dari keadaan tak tercela pada pandangan para ahli ilmu (ahlul-‘ilm). Para ahli ilmu mampu melihat mereka dengan cahaya Allah dan mengenali Kebenaran (Al-Haqq).

Jika dilihat oleh mata kaum awam, mungkin kalian adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, berpuasa, selalu bertasbih, membayar zakat, menunaikan haji, berprilaku warak, bertakwa dan zuhud. Namun sebaliknya, jika dilihat oleh ahlul-‘ilm, kalian adalah orang-orang munafik, dajjal, dan penghuni neraka. Mereka mampu melihat puing-puing kehancuran rumah-rumah kalian dan bangunan agama kalian. Mereka mampu melihat tanda-tandanya melalui wajah-wajah kalian. Namun, untuknya mereka tidak mengatakan apa pun kepada kalian. Kedekatannya kepada Allah membuat mereka telah menutup mulut mereka . Karena perindungan-Nya telah membuat lidah-lidah mereka tertahan.

Karena itu, kalian harus mengamalkan hakikat Islam, agar iman bisa datang kepada kalian secara sempurna, kemudian mampu menumbuhkan keyakinan kalian, memahami makrifatullah, mampu melakukan munajat dan muhadatsah kepada-Nya. Maka, gunakan akal sehat kalian! Janganlah kalian puas hanya dengan bentuk-bentuk luar ibadah semata. Kerjakanlah kewajiban-kewajiban kalian, lakukan dengan tulus, sebab dengan begitu kalian akan diselamatkan.”

—Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Sabtu, 11 Februari 2017

PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu bergerak ke depan. Dia hanya memiliki depan, tanpa belakang. Dia tak pernah berhenti berprilaku jujur dan ikhlas sehingga setitik debunya  menjadi gunung, setetes airnya menjadi lautan, jatahnya yang kecil menjadi sangat besar, lampunya menjadi matahari, dan bungkusnya menjadi isi.
Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang benar-benar jujur seperti itu, maka engkau harus selalu dekat dengannya kemanapun ia membawamu. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang mempunyai obat untuk menyembuhkan penyakitmu, maka engkau harus mendekatinya sepanjang waktu.

Jika engkau cukup beruntung bertemu dengan seseorang yang bisa menunjukkan kepadamu bagaimana cara menemukan kembali kesempatan yang telah engkau sia-siakan pada sesuatu yang tak lebih baik daripada sampah, maka engkau harus mendekatinya—benar-benar dekat!

Tapi, boleh jadi, engkau tak akan pernah mengenal orang-orang yang seperti itu, sebab mereka tak lebih dari segelintir manusia yang langka. Bungkus luarnya mungkin banyak, tetapi isinya hanya sedikit. Cangkangnya mungkin berada di tempat-tempat pembuangan sampah umum, tetapi isinya berada di gudang pribadi sang pemilik tanah. Setiap kali hati diisi dengan hal-hal duniawi, syahwat, hawa nafsu badani, maka hati itu akan menjadi hanya sekadar cangkang, yang tak akan cocok untuk tujuan apa pun di luar dunia yang rendah ini. Selama engkau masih menemukan dalam hatimu sifat dan perbuatan kotoran makhluk, maka engkau akan merasa menderita karena hukuman.

Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.” (QS Adzariyat: 56-58)

—Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir


Sabtu, 10 Desember 2016

MERAIH KARUNIA ALLAH SWT



Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:
“Ikutilah sunnah dan jangan membuat bid’ah-bid’ah! Patuhilah dan jangan melanggar! Bertauhidlah dan jangan menyekutukan-Nya! Sucikanlah Al-Haqq (Allah) dan jangan tuding keburukan kepada-Nya. Mintalah selalu kepada-Nya dan jangan pernah kau merasa jemu. Tunggu dan berharaplah, jangan ragu dan memeragukan belai kasih sayang-Nya.

Bersabarlah selalu dan jangan gusar! Bersikaplah tegar dan jangan lari! Bersaudaralah dan jangan bermusuhan. Bersatulah dan jangan dalam ketaatan dan jangan bercerai berai. Saling mencintailah dan jangan saling membenci. Sucikanlah diri dari keburukan, jangan kau kotori dengan noda dosa. Percantiklah diri dengan ketaatan kepada Rabb-mu dan janganlah kau menjauh dari pintu-pintu Mawla (Allah) junjunganmu.
Janganlah engkau berpaling dari sambutan-Nya. Janganlah menunda-nunda tobat. Jangan pernah bosa untuk meminta maaf daan ampunan kepada Penciptamu, siang dan malam. 

Semoga Dia menganugerahkan belai kasih sayang dan kebahagiaan, menjauhkanmu dari api neraka dan memasukkanmu ke dalam surga. Lalu, Dia menyibukkanmu dengan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan bersama bidadari dan bidadari di surga (Darussalam). Mengekalkanmu di dalamnya untuk selamanya, menaikkanmu di atas kendaraan kuda-kuda putih, menghiburmu dengan bidadari-bidadari , juga segala macam aroma kebaikan, beserta karunia-karunia nikmat-Nya, kemudian mengangkat derajatmu bersama para nabi, kau shiddiqin, para syuhada dan seluruh kaum shaleh di surga Illiyyin.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

NASEHAT SYEKH BAGI MEREKA YANG TELAH WUSHUL



Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:
“Jika engkau telah sampai (wushul) kepada Allah Ta’ala, maka engkau akan didekatkan kepada-Nya dengan nikmat kedekatan dan taufiq-Nya. Wushul kepada Allah ‘Azza wa Jalla berarti engkau keluar dari lingkaran makhluk, kecenderungan pada hawa nafsu, keinginan diri dan angan-angan, lalu engkau akan kokoh berdiri bersama Tindakan dan Kehendak-Nya tanpa membuat gerakan apa pun di dalam dirimu juga di dalam makhluk-Nya dengan (keinginan) dirimu sendiri, melainkan dengan hukum, perintah, dan Tindakan Allah. Ini adalah keadaan fana yang dapat dikatakan sebagai wushul (sampai kepada Allah).
Wushul kepada Allah tentu berbeda dengan sampainya kita kepada makhluk ciptaan-Nya yang masih berada dalam batas hukum-hukum akal. “Tak satu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS Asy-Syura [42]: 11). Mahasuci Allah dari keserupaan dan kemiripan dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.  

Di kalangan ahl al-wushul (Orang yang telah wushul) telah dikenal beberapa ciri khas masing-masing yang telah diberikan Allah dan antara satu orang dengan orang lainnya berbeda. Allah Azza wa Jalla memiliki rahasia tersendiri dengan para Rasul, Nabi, dan wali. Banyak hal yang tak diketahui oleh orang lain, kecuali hanya Allah dan orang tersebut (washil). Hingga ada pula seorang murid yang memiliki rahasia (pengalaman) tersendiri yang tak diketahui oleh Syekhnya. Begitu pula sebaliknya, ada seorang Syekh yang memiliki rahasia dan pengalaman tersendiri dengan Allah yang tidak diketahui oleh murid-muridnya, meskipun si murid sudah mendekati ambang pintu hal sang Syekh.

Ketika seorang murid telah mencapai keadaan (spiritual) sang Syekh, maka ia akan disendirikan dan dipisahkan dari Syekhnya. Lalu, Allah sendirilah yan kemudian mengasuh dan menyapih dari semua makhluk-Nya. Dalam hal ini, Syekh seperti seorang inang pengasuh yang berhenti menyusui sang bayi setelah dua tahun, juga dari menyusui makhluk setelah lenyapnya hawa kecenderungan dan keinginan diri. Sang Syekh hanya diperlukan selama murid masih memiliki hawa dan keinginan yang harus dihancurkan. Dan, setelah keduanya musnah, maka sang Syekh pun tidak dibutuhkan lagi, sebab si murid sudah tidak memiliki kotoran dan kekurangan.

Jadi, jika engkau telah wushul kepada Allah sebagaimana saya jelaskan, maka berlindunglah senantiasa dari segala selain-Nya. Jangan kau lihat wujud apa pun selain wujud-Nya, dalam hal mudarat dan manfaat, memberi dan menolak, takut dan harap, namun Dialah sesungguhnya ahli Taqwa dan ahli Maghfirah.
Pandanglah selalu Tindakan-Nya sambil menunggu perintah-Nya, menyibukkan diri dengan laku ketaatan-Nya, membedakan diri dari seluruh makhluk-Nya di dunia dan Akhirat.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk