Sabtu, 10 Desember 2016

USIR HAWA NAFSU DARI KALBUMU!


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:
“Keluarkan dirimu dari nafsumu dan jauhilah ia! Lepaskan segala kepemilikanmu dan serahkan semua pada Allah. Jadilah gerbang di pintu kalbumu. Patuhilah perintah-perintah-Nya untuk memasukkan orang-orang yang memang diperintahkan dan diizinkan masuk. Patuhi pula larangan-larangan-Nya untuk mengusir orang-orang yang diperintahkan-Nya untuk kau usir. Jauhi dari pintu kalbumu!

Jangan masukkan hawa nafsu ke dalam kalbumu setelah ia terusir darinya. Pengusiran hawa nafsu dari kalbu adalah dengan menentangnya dan menolak mengikutinya dari segala kondisi. Sedangkan, memasukkannya ke dalam kalbu adalah dengan menuruti kehendaknya dan menyetujuinya.
Janganlah engkau berkehendak selain dengan Kehendak Allah Azza wa Jalla. Kehendak yang kauinginkan selain itu adalah belantara kebodohan yang akan mengantarkanmu pada malapetaka dan kebinasaanmu, juga kejatuhanmu di mata-Nya dan keterjauhanmu dari-Nya.

Maka dari itu, jagalah selalu perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Pasrahkan selalu dirimu kepada-Nya dalam segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Jangan pernah sekutukan Dia dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Karena itu, janganlah terlalu berambisi tinggi, menginginkan kesenangan dan bersyahwat besar agar dirimu tak menjadi orang yang musyrik.
Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Allah,” (QS Al-Kahfi [18]: 110).

Syirik bukan hanya terbatas pada penyembahan berhala saja, namun termasuk juga tindak kesyirikan adalah menurutkan hawa nafsumu, memilih sesuatu selain-Nya berupa dunia seisinya, dan segala sesuatu selain-Nya. Jika engkau terhanyut dengan segala sesuatu selain-Nya, maka berarti engkau telah menyekutukan-Nya. Maka, waspaadalah dan jangan terlena, takutlah selalu dan jangan merasa diri aman, telitilah selalu dan jangan lalai, niscaya engkau akan merasa tenang.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

Selasa, 06 Desember 2016

MENYESALI DOSA DAN KESALAHAN


Imam Al-Ghazali mengatakan:“Keresahan yang biasa melanda hati seorang hamba tanpa disadari adalah merupakan kegelapan dari dosa. Demikian juga perasaan hati yang dicekam oleh kekhawatiran menghadapi proses hisab di Hari Kiamat, di samping ketakutan akan kedahsyatan huru-hara kiamat.
Rasulullah SAW bersabda, “Di antara berbagai jenis dosa terdapat sejumlah dosa yang hanya bisa ditebus dengan kesedihan mendalam.” (HR Abu Nu’man)
Sayyidah Aisyah r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika telah menumpuk dosa-dosa seorang hamba, sedangkan ia sudah tidak memiliki kebaikan untuk menebus dosanya itu, maka Allah akan menimpakan keresahan ke dalam hatinya, sehingga hal tersebut menjadi penghapus dosa-dosanya.”
Mungkin engkau akan bertanya, “Jika seseorang resah dan risau karena persoalan harta, anak atau kedudukan, sedangkan itu semua termasuk perbuatan buruk, bagaimana mungkin hal itu bisa menjadi penghapus dosa?”
Ketahuilah, sesungguhnya mencintai dunia itu merupakan perbuatan buruk, tetapi kegagalan memperolehnya adalah merupakan tebusan (kaffarah) atas dosanya. Sebaliknya, jika orang tersebut berhasil memperoleh kenikmatan dari cintanya kepada dunia, maka lengkaplah keburukannya!
Setiap perbuatan maksiat itu harus diupayakan dihapus dengan mengamalkan kebaikan. Seseorang harus melakukan kebaikan-kebaikan yang sebanding dengan kejahatan atau dosa yang terlanjur dikerjakannya. Jika amal kebaikannya lebih besar dari keburukannya, maka ia adalah orang yang berbahagia. Sebaliknya, jika keburukannya lebih besar, maka ia adalah orang yang merugi.
Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS Huud: 114)”
--Imam Al-Ghazali dalam Kitab At-Taubah, Ihya Ulumuddin

MARI MENEBUS DOSA DAN KESALAHAN KITA



Dosa dan kesalahan selalu kita lakukan, baik sengaja ataupun tidak. Setiap saat hal ini bisa terjadi. Dosa-dosa kecil kadang dilakukan berulang-ulang secara samar dan nyata, lalu lama kelamaan menjadi dosa kebiasaan yang menggunung. Sementara, dosa-dosa yang besar terus menghantui diri kita, mengakar kuat atau bahkan kelak menjadi memori hitam yang dianggap biasa saja. Padahal ini sangat berbahaya bagi kejiwaan kita, merusak kejernihan hati dan moral, merusak cara berpikir dan menjauh dari ketaan kepada Allah.
Karena itu, kita mesti mempernyak diri untuk melakukan muhasabah, menyesali atas dosa-dosa, menuju kepada ketaatan dan merasakan kehinaan diri di hadapan Allah.
Imam Al-Ghazali mengatakan: “Menghapus dosa maksiat harus dengan menempuh dengan jalan yang berlawanan dengan maksiat. Seperti suatu penyakit yang harus diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyakit tersebut.”

Menurut Imam Al-Ghazali, setiap kegelapan yang menutupi hati manusia karena perbuatan maksiat, hanya bisa dihapus oleh cahaya yang masuk ke dalamnya, akibat amal kebaikan yang berlawanan dengan perbuatan sebelumnya (maksiat). Dan, karena semua yang berlawanan itu terdiri dari unsur-unsur yang bersesuaian, maka hendaknya setiap kejahatan dihapus dengan kebaikan sejenis, yang berlawanan sebelumnya. Misalnya, warna putih dapat dihilangkan dengan warna hitam, panas dapat dihapus dengan dingin. Tetapi, janganlah warna putih itu dihapus dengan panas atau dingin.

Imam Al-Ghazali juga menegaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Bukti bahwa suatu perbuatan bisa dihapus dengan perbuatan lain yang berlawanan itu dapat kita lihat dari kecintaan manusia pada dunia. Sesungguhnya, cinta pada dunia merupakan pangkal dari segala kesalahan, dan pengaruh yang ditimbulkannya di dalam hati adalah berupa perasaan suka dan rindu kepada dunia.
Dan, setiap gangguan batin yang menyebabkan seorang Muslim berpaling dari dunia itu akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya. Hal tersebut lazim terjadi, rasa resah dan risau itu membuat hatinya berpaling dari dunia, yang jutru merupakan sumber dari keresahan dan kerisauan.Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah kejahatan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapus (dosa) kejahatan tersebut.” (HR At-Tirmidzi)
-- Disarikan dari Kitab At-Taubah, Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali.

DOSA KECIL DAPAT BERUBAH JADI DOSA BESAR



Imam Al-Ghazali dalam Kitab At-Taubah, Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa ada 6 jenis perbuatan yang membuat dosa kecil berubah menjadi dosa besar:
1)      Mengerjakan dosa kecil secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan.
Tidak disebut dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus. Dan, tak ada dosa besar jika seseorang segera bertobat dan tak mengulangi lagi perbuatannya.
Satu kali melakukan perbuatan dosa besar, lalu berhenti melakukannya maka harapan untuk diampuni dosanya oleh Allah lebih besar daripada melakukan dosa kecil yang dilakukan terus menerus. Seperti tetes-tetes air yang terus menerus menjatuhi sebuah batu dalam waktu yang sangat lama. Tentu kelak akan dapat membekas dan melubangi batu tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik amal adalah yang dilakukan terus-menerus walau hanya sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim). Orang yang beramal shaleh, meski sedikit demi sedikit namun jika dilakukan terus menerus maka kelak menjadi amal yang besar. Hadis ini juga dapat berlaku sebaliknya. Dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus kelak akan menjadi besar.

2)      Menganggap remeh dosa kecil.
Setiap dosa yang dinilai besar oleh pelakunya, lalu disertai dengan penyesalan sesudahnya secara mendalam, maka dosa itu menjadi kecil di mata Allah. Sebaliknya, jika ia menganggap kecil suatu dosa, hal itu dapat menjadi besar di mata Allah. Dosa itu menjadi besar disebabkan oleh karena hati pelakunya tidak menolak dan tidak membencinya. Padahal, perasaan inilah yang sebenarnya dapat mencegah pengaruh burukyang ditimbulkannya. Sedangkan, sifat meremehkan suatu dosa berasal dari rasa suka hatinya terhadap perbuatan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Mukmin melihat dosanya laksana gunung di atas dirinya, dan ia khawatir gunung itu akan runtuh menimpanya. Sedangkan seorang munafik melihat dosanya laksana seekor lalat yang lewat di depan hidungnya, lalu diusirnya.” (HR Bukhari)

3)      Merasa gembira, senang dan bangga terhadap dosa kecil.
Jika seseorang terdorong melakukan dosa, dan setan berhasil menyeretnya untuk melakukan dosa itu lagi, seharusnya ia insyaf bahwa sejatinya ia sedang berada dalam musibah. Seharusnya ia merasa menyesal karena ia telah dikalahkan oleh musuh hingga dijauhkan dari rahmat Allah.
Seorang pasien yang merasa gembira atas pecahnya botol berisi obat untuk penyakitnya hanya karena alasan ia terbebas dari rasa pahit obat tersebut, maka ia tidak perlu berharap dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya.

4)      Tidak menghargai anugerah Allah yang selalu menutupi aibnya.
Salah satu yang membuat nilai dosa kecil menjadi dosa besar adalah tidak adanya sikap menghargai anugerah Allah yang telah menutupi aib-aibnya dan menangguhkan siksa-Nya. Orang tersebut tidak menyadari bahwa sebenarnya dia telah diberi tangguh / tempoh waktu bertobat, tapi justru membuatnya semakin menambah dosa dan membuat murka Allah pun semakin besar kepadanya. Bahkan, yang lebih parah lagi, orang jenis ini menjadikan kesempatan yang diperolehnya itu untuk berbuat maksiat yang lainnya, dia menganggap bahwa Allah telah memerhatikannya dan meridhainya sehingga dia merasa aman dari makar-Nya.

5)      Melakukan dosa dengan terang-terangan dan mengumumkan pada orang lain.
Dosa kecil akan menjadi besar jika dilakukan secara terang-terangan, di hadapan orang lain, atau bahkan menceritakan perbuatannya kepada orang lain tanpa menyesal. Sikap semacam ini sama saja dengan merobek-robek tabir Allah yang telah ditutupkan padanya.
Rasulullah SAW bersabda, “Semua manusia diampuni, kecuali orang-orang yang mengumumkan perbuatan dosanya kepada orang lain (dengan tanpa penyesalan). Salah seorang dari mereka melakukan suatu dosa di malam hari, dan Allah menutupi perbuatannya itu (agar tak diketahui orang lain). Tapi, pada pagi harinya, ia justru membuka sendiri tabir Allah itu, dan menceritakan tentang dosanya pada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim).

6)      Dosa-dosa para ulama yang dijadikan anutan.
Seorang ulama yang menjadi anutan masyarakat jika sampai melakukan dosa secara sadar, maka dosanya lebih besar daripada dosa orang biasa. Seperti misalnya dosa seorang ulama yang suka menghujat dan menyerang orang lain di depan umum dengan lisannya, menerima rasuah dari penguasa, suka bermegah-megah dengan kehidupan duniawi, maka dosanya lebih besar daripada orang biasa.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang pertama kali mengadakan tradisi buruk, ia akan menanggung dosanya dan dosa-dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR Muslim)

Renung-renungkanlah, pikir-pikirkanlah!
---Disarikan dari Kitab At-Taubah, Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali
Semoga bermanfaat

Halim Ambiya
Pendiri & Admin Tasawuf Underground

Rabu, 23 November 2016

AJARAN IKHLAS DARI SULTHANUL-AWLIYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Wahai saudaraku, hidupmu jangan seperti pasar, yang jika waktunya habis tak seorang pun tinggal di sana. Ketika malam tiba, tak seorang pun berkenan tinggal di sana. Oleh karena itu, bermujahadalah engkau agar tidak akan seperti berjual beli di pasar; kecuali sesuatu yang bermanfaat buat akhirat kelak. Sebab Allah selalu mengawasimu. Tauhidkanlah Allah dan beramallah dengan ikhlas semata karena Dia.
Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah jua yang memberi rezeki buatmu. Janganlah bersifat kikir terhadap sesama. Pakailah akalmu, bersopan santunlah di hadapan Allah dan di hadapan makhluk-Nya. Janganlah engkau menganiaya sesama dan jangan mencuri hak-hak mereka. Pandai-pandailah menempatkan diri di sisi-Nya.

Wahai saudaraku, dengan ekspresi wajah yang bagaimanakah kelak engkau berjumpa dengan Allah jika dirimu saat ini selalu menentangnya. Jika setiap kebutuhan dan hajatmu engkau sampaikan kepada sesama manusia dan engkau berserah diri kepadanya; bukan kepada Allah.
Wahai saudaraku, seandainya engkau mampu memberi terhadap sesamamu tanpa menghendaki sesuatu imbalan, maka lakukanlah. Jadіlah pelayan tanpa mencari pelayan. Perhatikan kesufian dan kesiapan mereka di hadapan Allah. Jika Islam tidak ada dalam jiwamu, bagaimana mungkin iman bisa tumbuh dalam hatimu. Jika keyakinan tidak engkau miliki, berarti dirimu
tidak mempunyai kebaikan. Itu berarti engkau jauh sekali dari-Nya. Inilah derajat yang tumbuh dalam jiwa.

Tetapi jika Islam murni, maka murnilah penghambaanmu kepada-Nya. Maka menjadilah engkau orang yang berserah diri kcpada-Nya dengan segala keberadaanmu. Engkau akan menjaga syariat-Nya secara ikhlas. Serahkan jiwamu menurut kewajiban. Perbaikilah adab bersama-Nya dan dengan makhluk-Nya. Jangan engkau menganiaya diri sendiri atau orang lain. Karena perbuatan aniaya itu membutakan hati, menggelapkan mata dan menggelapkan catatan amal. Janganlah engkau menolong orang yang suka menganiaya orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
اِذَا اُظْلِمَ مَنْ لَمْ يَجِدْ نَاصِرًا غَيْرَ الْحَقِّ عَزَّ وَجَلَّ فَاِنَّهُ يَقُوْلُ: لَاَنْصُرَنَّكَ وَلَوْبَعْدَ حِيْنٍ.
Apabila orang yang teraniaya itu tidak menjumpai penolong selain Allah Azza wa Jalla, maka Allah berkata tentu Aku beri pertolongan padamu walaupun sudah berlalu.
Bersabarlah engkau, sebab sabar itu suatu jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah dan mengangkat kemuliaan.

Wahai Allah, kami mohon kepada-Mu agar sabar bersama-Mu. Kami mohon taqwa, bebas dari semua keberadaan ini, sibuk bersama-Mu.
Wahai hamba Allah, tenanglah bersama-Nya, karena tenang bersama-Nya itu nikmat. Tiada penguasa, tiada yang kaya, dan tiada yang mulia kecuali Allah SWT.
Wahai orang munafik, sampai kapankah kamu riya' dan munafik kepada-Nya? Celakalah kamu, kenapa tidak malu kepada-Nya dan tidak уakin akan bertemu dengan-Nya? Waktu ini kamu beramal karena-Nya tetapi dalam batinmu tidak demikian. Bertaubatlah dan bersihkan niatmu karena-Nya, sesungguhnya tidak akan makan sesuap pun atau berjalan selangkah kecuali dengan niat yang ikhlas.

Ketauhilah, bahwa makhluk dan Khalik tidak bisa disamakan, dunia dan akhirat tidak akan pernah bisa dipadukan. tidak bisa dilukiskan tapi keberadaan makhluk bisa dilukiskan dalam jiwa. Jika kamu dekat dengan Allah maka bebaskan hatimu dari dunia dan akhirat. Selama dalam hatimu masih ada sesuatu selain Allah Swt. maka kamu tidak akan bisa melihat kehadiran-Nya. Selama hatimu masih suka terhadap dunia, maka kamu tidak akan bisa melihat akhirat, kamu tidak akan bisa mendekati pintu-Nya selagi hatimu masih bercabang. Wahai hamba Allah, kelihatannya kamu sibuk dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui. maka kosongkanlah nafsu dari hatimu tentu kebaikan akan menyelimutimu, jika nafsu itu telah keluar maka datanglah kejernihan.

Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Al- Ra'd (13) : 11)
Wahai saudaraku, pikirkanlah kalam Allah di atas tadi. Setiap kalimat yang keluar dari mulutku dan kusampaikan kepada mereka bukan berarti aku membutuhkan mereka. Aku tidak butuh mereka, tetapi aku hanya butuh kepada Allah.

Dia Maha Mengetahui kebenaranku, karena Dia Maha Tahu atas segala yang gaib, segala yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaan-Nya. Beramal dengan ikhlas adalah amal kebaikan yang dilakukan semata-mata karena Allah, semata-mata mengharap ridha-Nya. Ikhlas merupakan ruh amal. Sedangkan amal kebaikan yang tidak disertai dengan niat ikhlas, jelas akan ditolak oleh Allah.

Allah SWT berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Dan mereka tidak diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan Agama. (QS Al- Bayyinah (98) : 5)
Rasulullah Saw. bersabda:
لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتَغِىَ بِهِ وَجْهَهُ
Allah tidak menerima amal, melainkan amalnya yang ikhlas mencari keridhaan Allah (HR. Ibnu Majah)
Wahai saudaraku, ikhlas adalah dasar suatu amalan. Amalan yang tidak disertai dengan hati yang ikhlas akan sia-sia. Percayalah kepada Allah dan taatilah segala perintah-Nya. Jauhilah segala apa yang dilarang-Nya dan janganlah kamu durhaka kepada-Nya. Cintailah sesuatu karena Allah, bencilah orang yang selalu menentang-Nya.

Wahai saudaraku, syukurlah atas semua pemberian-Nya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya di saat mengalami kesulitan dan pujilah Dia di saat mengalami kegembiraan. Cintailah sesama manusia sebab mereka itu makhluk Allah. Ikhlas kepada Allah dalam beribadah adalah menyembah-Nya dengan tanpa mengharap sesuatu dari selain-Nya. Kalau kamu menyembah Allah dengan tujuan untuk memperoleh pahala atau sebab takut karena siksa-Nya, maka ibadah yang seperti itu tidak dinamakan ikhlas.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk mengabdi kepada Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An،âm (6) :162)

Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ اَعْطَى لِلّٰهِ تَعٰلَى وَمَنَعَ لِلّٰهِ تَعَالٰى وَاَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَاَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَلَى وَاَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَوِاسْتَكْمَلَ اِيْمَانَهُ.
Barangsiapa yang memberimu karena Allah Та 'ala, mencegah karena Allah Та 'ala. Mencintai karena Allah Та 'ala, benci karena Allah ta 'ala, dan menikahkan karena Allah Та 'ala, maka ia telah menyempurnakan imannya. (HR. Abu Dawud)
Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab r.a. berkata tentang amalan yang ikhlas sebagai berikut:
اَفْضَلُ الاَعْمَالِ اَدَاءُ مَافْتَرَضَ اللهُ تَعَالَى وَالْورَعُ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى وَصِدْقُ النِّيَّةَ فِيْمَا عِنْدَاللهِ تَعَالَى.
Amalan yang paling utama adalah menunaikan ара yang telah difardhukan oleh Allah Та 'ala dan melakukan wara' (menjaga diri) dari sesuatu yang diharamkan Allah Та 'ala, serta membenarkan niat dalam beribadah kepada Allah ta 'ala.

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Selasa, 22 November 2016

MAN JADDA WAJADA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
"Ajukanlah permintaan kalian kepada-Nya, dan bukan kepada siapa pun yang lain. Tegaskanlah ke-esaan-Nya, sebab dengan itu kalian akan disatukan. Orang yang mengukuhkan keesaan Tuhan akan mengalami penyatuan (man wa hhada tawa hhada). Orang yang mencari dan berjuang, akan mendapatkan (man thalaba wa jadda wajada).

Jika seseorang menyerahkan dirinya dan tunduk serta patuh kepada-Nya, maka orang itu akan aman dan selamat (man aslama wa taslama, salima). Jika seseorang menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, dia akan dibantu untuk berhasil (man wafaqa wuffiqa). Tetapi jika seseorang bertengkar dengan takdir (qadar), dia akan dipukul hingga binasa. Ketika firʽaun bertengkar dengan takdir dan menginginkan agar ilmu Allah diubah, maka Dia lalu membinasakannya dan menenggelamkannya di laut, dan menjadikan Mûsâ dan Harun tetap hidup.

Ketika ibu Mûsâ merasa takut kepada algojo-algojo yang disuruh Firʽaun menyembelih setiap bayi yang baru lahir, maka Allah lalu memberinya ilham agar dia melemparkannya ke laut. Tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Mûsâ a.s. maka kepadanya dikatakan:
الْمُرْسَلِينَ [القصص :٧] وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ
Janganlah engkau takut dan jangan bersedih, sebab Kami akan membawa dia kembali kepadamu,dan Kami akan menjadikannya salah seorang rasul (QS Al-Qashash (28):7).

(Dengan perkataan lain:) “Janganlah engkau takut, sebab hatimu akan ditenangkan, dan wujud terdalammu (sirr) akan diistirahatkan. Janganlah engkau takut bahwa dia akan tenggelam atau binasa, sebab Kami akan mengembalikan dia kepadamu. Melalui dia kami akan mengubah kemiskinanmu menjadi kekayaan.” Karena itu Ibu Mûsâ a.s. lalu mempersiapkan sebuah peti (tâbût) baginya, lalu meletakkannya di dalamnya, dan melemparkan peti itu ke laut. Lalu peti itu mengapung di atas air sampai mencapai istana, di mana ia diambil oleh pelayan-pelayan Firʽaun dan istrinya, Ȃsiyah.

Segera sesudah mereka membuka peti itu, mereka pun melihat bahwa peti itu berisi seorang bayi laki-laki.  Mereka semua menyukainya, dan hati mereka penuh dengan rasa sayang kepadanya. Maka mereka pun lalu menggosok bayi itu dengan minyak, mengganti popoknya dan memberinya baju baru. Dia menjadi salah seorang manusia yang paling dicintai oleh Ȃsiyah dan para pelayannya, dan dia juga dicintai oleh setiap anggota pengiring Firʽaun yang kebetulan melihatnya. Ini menjelaskan makna firman Allah SWT.:
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي [طه: ٣٩]
Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku (QS Thâ Hâ (20) :39)

Dikatakan bahwa siapa pun yang memandang ke mata Mûsâ pasti jatuh cinta kepadanya. Kemudian Dia mengembalikannya kepada ibunya dan membesarkannya di istana Firʽaun, bertentangan dengan kehendak Firʽaun sendiri, yang terbukti tidak mampu membinasakannya. Apabila seseorang telah dipilih dan dipelihara oleh Tuhan untuk Diri-Nya sendiri, bagaimana bisa orang membinasakannya?

Bagaimana bisa orang membantainya? Bagaimana bisa air menenggelamkannya? Dia dijaga dalam penjagaan-Nya dan berbicara dengan-Nya secara langsung. Apabila seseorang dicintai oleh Tuhan Yang Maha Benar, siapa yang bisa membencinya? Siapa yang bisa mendatangkan bahaya kepadanya? Siapa yang mampu menelantarkannya? Siapa yang bisa menjadikannya kaya? Siapa yang bisa menjadikannya miskin?  Siapa yang bisa mengangkatnya ke derajat yang tinggi? Siapa yang akan mampu memecatnya? Siapa yang bisa mendekatkannya? Siapa yang akan mampu menjauhkannya?

Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu kedekatan-Mu. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mengabdi dan taat kepada-Mu, ke dalam kalangan mereka yang bertakwa sepenuhnya kepada-Mu, dan ke dalam kalangan tentara-Mu. Izinkanlah kami duduk di tikar dimana makanan anugerah-Mu disuguhkan, dan izinkanlah kami memuaskan dahaga kami dengan minuman persahabatan akrab-Mu.

Berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan pula di akhirat nanti, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS Al-Baqarah (2) :201)"

--Dikutip dari kitab Jala Al-Khathir, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Semoga bermanfaat.
Salam

Halim Ambiya

Kamis, 17 November 2016

DAHSYATNYA CINTA KEPADA RASULULLAH

Al-Qasthulani dalam kitab Al-Mawahib Al-Laduniyah mengatakan, "Allah menjadikan pahala bagi orang yang dengan tulus mengikuti Rasulullah SAW berupa kecintaan-Nya kepadanya. Karena, ketulusan mengikuti Nabi SAW dapat menumbuhkan rasa mencintai dan dicintai sekaligus. Dengan begitu, sempurnalah proses cinta. Tidak cukup engkau mencintai Allah. Allah pun harus mencintaimu juga. Dia tidak akan mencintaimu jika kamu tidak mengikuti kekasih-Nya lahir dan batin.
Allah SWT akan mencintaimu jika kamu membenarkannya, mengikuti perintahnya, menjawab seruannya, mendahulukan ketaatan kepadanya, meninggalkan hukum yang lain untuk tunduk pada hukumnya, meninggalkan kecintaan kepada mahluk lainnya dan semata-mata mencintainya. Inilah yang dimaksud dengan ”Ikutilah aku, Allah akan mencintaimu."

Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga hal yang bila ada semuanya pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apa pun selain keduanya; kedua, ia mencintai orang semata-mata karena Allah; dan ketiga, ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan ke dalam api Neraka," (HR Bukhari).
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa bagi umatnya yang mencintainya, maka Allah SWT akan menggabungkan para pecinta tersebut, baik secara ruhaniyah di dunia dan secara hakiki di akhirat dengan kekasih-Nya. Sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Sufyan bin Qudamah. Beliau berkata, "Aku hijrah ke Medinah dan aku bertemu Nabi Saw. Aku menyapanya, ‘Ya Rasul Allah, berikan tanganmu, aku mau berbai'at." Beliau kemudian menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku bertanya kepadanya, "Ya Rasul Allah, aku mencintaimu." Beliau pun bersabda, "Manusia akan digabungkan bersama orang yang dicintainya."

Seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW tentang Hari Kiamat. Beliau bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab,"Tidak ada sama sekali. Tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda, "Engkau beserta orang yang engkau cintai."
Moga bermanfaat!